Pemberontak Kolombia bebaskan wartawan Prancis

Terbaru  31 Mei 2012 - 07:36 WIB
Ropmeo Langlois

Wartawan Prancis Romeo Langlois dibebaskan setelah sebulan disandera FARC.

Kelompok pemberontak FARC akhirnya membebaskan wartawan Prancis Romeo Langlois pada Rabu (29/5) waktu setempat setelah selama satu bulan disandera.

Langlois, sandera dengan profil tertinggi sejak politisi Ingrid Betancourt, disandera di kawasan Caqueta pada 28 April lalu ketika terjebak baku tembak antara pasukan Kolombia dan gerilyawan FARC.

Saat disandera, wartawan berusia 35 tahun itu ikut berjalan bersama pasukan gerilyawan ke sebuah desa yang ramai.

Di desa itu banyak orang yang mengabadikan foto Langlois dengan telepon selularnya. Pada dasarnya, gerilyawan memperlakukan Langlois dengan sangat baik.

"Saya tak pernah diikat. Mereka memperlakukan saya layaknya tamu. Mereka memberi saya makanan enak dan mereka sangat sopan," tutur Langlois.

Setelah pembebasan Langlois, Palang Merah menyatakan kondisi kesehatan wartawan lepas France 24 itu sangat baik kecuali luka di lengannya akibat terkena peluru saat baku tembak terjadi.

Perhatian lebih

FARC

FARC sudah bergerilya menentang pemerintah Kolombia sejak 1960-an.

Langlois yang hidup bersama para pemberontak selama 33 hari itu mendesak media massa internasional untuk lebih memperhatikan pemberontakan terpanjang di Amerika Latin itu.

"Seharusnya lebih banyak lagi jurnalis melaporkan kehidupan sehari-hari para gerilyawan," ujar Langlois.

Dia menuding kemiskinan dan tertinggalnya pembangunan daerah-daerah pedesaan terpencil yang menjadi penyebab perang saudara yang sudah memakan puluhan ribu nyawa itu.

Pernyataan Langlois ini mendapat sambutan meriah dari ratusan warga desa yang menyaksikan pembebasannya.

FARC sendiri menyalahkan pemerintah Kolombia karena menggunakan jurnalis untuk memberikan citra buruk terhadap mereka.

FARC juga menyerukan digelarnya debat berkaitan dengan kebebasan mendapatkan informasi sebagai imbalan pembebasan Langlois.

Sambut pembebasan

"Saya tak pernah diikat. Mereka memperlakukan saya layaknya tamu. Mereka memberi saya makanan enak dan mereka sangat sopan."

Romeo Langlois

Sementara itu, Presiden Prancis Francois Hollande menyambut baik pembebasan Langlois dan menyebut saat ini sebagai masa gembira dan kelegaan.

Namun, Hollande juga menyampaikan rasa prihatinnya untuk sejumlah warga Prancis yang menjadi korban penculikan di luar negeri.

"Pikiran saya selalu bersama rekan-rekan kita yang masih menjadi sandera dan pemerintah sedang bekerja untuk pembebasan mereka," lanjut Hollande.

Saat ini terdapat tujuh warga negara Prancis yang disandera di luar negeri, termasuk enam orang di kawasan Sahel di Afrika dan satu petugas intelijen di Somalia.

Warga Prancis terakhir yang disandera FARC adalah Ingrin Betancourt yang dibebaskan pasukan Kolombia pada 2008 lalu setelah disandera selama enam tahun.

Penyanderaan Langlois ini menunjukkan bahwa FARC yang bergerilya sejak 1960-an masih memiliki kekuatan meski sudah digempur pasukan pemerintah selama lebih dari 10 tahun terakhir ini.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.