BBC navigation

Pengawas nuklir PBB tewas di Iran

Terbaru  8 Mei 2012 - 21:08 WIB
Reaktor nuklir Iran

IAEA mengirimkan dua tim pengawas nuklir ke Iran sejak awal tahun ini.

Seorang pengawas nuklir yang bekerja untuk PBB tewas dalan kecelakaan lalu lintas di dekat reaktor di Khondab, Iran bagian tengah hari Selasa (8/5).

Pernyataan dari Badan Tenaga Atom Internasional, IAEA, menyebutkan Ok-Seok Seo yang berasal dari Korea Selatan merupakan anggota dari tim IAEA.

Seorang pengawas nuklir lain yang melakukan perjalanan bersamanya menderita cedera, namun nama dan kebangsaannya tidak diungkapkan.

"Salah seorang dari dua ahli terluka sedangkan Ok-Seok Seo dari Korea Selatan meninggal dunia karena cedera berat," demikian pernyataan IAEA yang dimuat kantor berita IRNA.

Para inspektur nuklir itu sedang melakukan tugasnya di Khondab ketika terjadi kecelakaan lalu lintas pada tengah hari waktu setempat.

Dilaporkan mobil yang membawa Ok-Seok Seo tergelincir dan terbalik akan tetapi tidak ada rincian lebih lanjut dari IAEA tentang kecelakaan tersebut.

IAEA mengirimkan dua tim ke Iran sejak awal tahun ini sebagai tindak lanjut dari laporan IAEA November tahun lalu yang menduga kegiatan nuklir Iran berkaitan dengan pengembangan senjata nuklir.

Iran berulang kali membantah tuduhan itu dan menegaskan program nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai.

"Amerika Serikat dan India memiliki tujuan yang sama: kami berdua ingin mencegah Iran mendapatkan senjata nuklir."

Hillary Clinton

Tanggal 13 Mei mendatang, Iran dan IAEA akan melakukan pertemuan di Wina untuk membahas pertanyaan-pertanyaan yang masih tersisa sehubungan dengan program nuklirnya.

Mengurangi minyak Iran

Sementara itu di Delhi, pemerintah India menyatakan dukungan atas upaya Amerika Serikat untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir namun menegaskan Iran masih merupakan sumber penting minyak India.

"Kami memiliki kepentingan kuat dalam penyelesaian damai melalui perundingan sehubungan isu yang berkaitan dengan program nuikir Iran," kata Menteri Luar Negeri India, S.M Krishna dalam pernyataan pers bersama Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton.

India memiliki ketergantungan atas minyak Iran dengan proporsi 12% dari total impor minyaknya berasal dari Iran.

Walau awalnya tidak ingin terlibat dalam upaya Uni Eropa-Amerika Serikat untuk menghambat pemasukan Iran dari minyak, Krishna mengatakan India perlahan-lahan mengurangi impor minyaknya dari Iran.

Dalam kunjungannya ke India, Clinton mendesak agar pemerintah Delhi mengurangi impor minyak Iran sambil membahas upaya untuk menemukan sumber alternatif bagi impor minyak.

"Amerika Serikat dan India memiliki tujuan yang sama: kami berdua ingin mencegah Iran mendapatkan senjata nuklir," tutur Clinton.

Clinton menambahkan bahwa Carlos Pascuals -pejabat AS yang menangani masalah minyak Iran- akan berkunjung ke India pekan depan untuk pembahasan lebih lanjut.

Berdasarkan undang-undang baru di Amerika Serikat yang akan berlaku mulai 28 Juni 2012, maka bank dari negara yang masih membeli minyak Iran akan mendapat sanksi keuangan dari Amerika Serikat.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.