Dunia internasional kecam kudeta di Mali

Terbaru  23 Maret 2012 - 11:46 WIB
Mali

Pemberontak Mali menyerang istana presiden dan mengambil alih radio dan TV pemerintah.

Kalangan internasional mengecam kudeta di Mali yang dilakukan oleh pasukan tentara yang membelot dan memecat Presiden Amadou Toumani Toure.

Dewan Keamanan PBB meminta untuk melakukan "restorasi aturan konstitusional secepatnya dan memilih pemerintah secara demokratis".

Bank Dunia dan Bank Pembangunan Afrika menghentikan seluruh bantuan sampai krisis teratasi.

Pemimpin kudeta menyampaikan melalui televisi pemerintah bahwa mereka telah menutup perbatasan. Mereka menambahkan bahwa presiden selamat.

Seorang pejabat pemerintah mengatakan kepada BBC, bahwa Presiden Amadou Toumani Toure tidak ditahan oleh pemberontak.

Sementara itu, tentara menyerang istana presiden di ibukota Bamako.

Menteri Luar Negeri Kenya Moses Wetangula beserta delegasinya tertahan di negara tersebut, menyusul penutupan bandara di Bamako.

Mereka berada di Mali untuk menghadiri pertemuan Uni Afrika untuk perdamaian dan keamanan.

Pemilu tidak ditunda

Badan regional Afrika Barat Ecowas mengatakan tindakan tentara pemberontak tercela.

Uni Afrika menggambarkan kudeta itu sebagai sebuah "kemunduran bagi Mali".

Prancis, yang merupakan bekas kekuatan kolonial, juga menghentikan bantuan sebagai protes terhadap kudeta.

Presiden Amadou Toumani Toure

Presiden Mali Amadou Toumani Toure disebutkan dalam kondisi selamat.

Tentara, yang menyebut diri mereka sebagai Komite untuk pendirian kembali Negara Demokrasi dan Restorasi CNRDR, berjanji untuk mengalihkan kekuasaan kepada pemerintah yang terpilih.

Mereka mengatakan melakukan pemberontakan pada Rabu (21/3) karena pemerintah tidak memberikan senjata yang cukup kepada mereka untuk mengatasi pemberontakan, yang dilakukan oleh etnis Tuareg di bagian utara Mali.

Mereka menyerang istana presiden, saling tembak dengan tentara yang setia kepada pemerintah dan mengambil alih radio dan televisi pemerintah serta menghentikan siaran.

Pemimpin pemberontak Kapten Amadou Sanogo, muncul di televisi pada Kamis (22/3) lalu, dan mengumumkan pemberlakuan jam malam dan mencabut konstitusi.

Wartawan BBC di Bamako, Martin Vogl mengatakan kemungkinan kudeta tidak berjalan lama, karena peralatan yang dimiliki oleh pasukan pemberontak terbatas, dipimpin oleh militer tingkat menengah dan mereka tidak mendapatkan dukungan dari pasukan Mali.

Unit yang sangat terlatih dan terorganisir Red Berets setia kepada presiden dan dipercaya untuk melindungi pemimpin negara itu, seperti disampaikan reporter BBC.

Seorang sumber mengatakan kepada BBC bahwa Menteri Luar Negeri dan sejumlah orang menteri telah ditahan oleh tentara pembelot.

Mali memiliki aturan hukum yang demokratis selama 20 tahun terakhir, selama ini dijadikan model sebagai negara demokrasi yang sedang berkembang.

Kerusuhan terjadi sejak Rabu (21/3), ketika Menteri Pertahanan memulai kunjungan ke barak militer di bagian utara ibukota.

Pemilu presiden akan digelar di negara tersebut kurang dari satu bulan ke depan.

Pemerintah telah menolak untuk menunda pemilihan umum, meskipun sebelumnya terjadi kerusuhan yang dipicu oleh pemberontakan etnis Tuareg.

AS dan Prancis mendesak tentara dan pemerintah menyelesaikan perselisihan secara damai.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.