Korban obat terkontaminasi di Pakistan bertambah

Terbaru  26 Januari 2012 - 22:05 WIB
Pasien jantung

Pasien jantung mengembalikan obat di Institut Kardiologi Punjab.

Jumlah orang yang meninggal dunia karena menggunakan obat jantung yang terkontaminasi di Lahore, Pakistan, kini mencapai sekitar 100 orang.

Kematian pasien jantung selama tiga minggu terakhir dikaitkan dengan obat-obat keluaran yang sama yang diberikan kepada para pasien jantung secara cuma-cuma di rumah sakit pemerintah, Institut Kardiologi Punjab di Lahore.

"Hampir 100 pasien meninggal dunia karena reaksi obat jantung," kata Menteri Besar Provinsi Punjab, Shahbaz Sharif seperti dilaporkan kantor berita AFP.

Dia mengatakan sebagian besar korban berasal dari kalangan miskin yang mendapatkan obat dari rumah sakit tanpa dipungut biaya.

Para dokter mengatakan sebanyak 250 orang lainnya dirawat di rumah sakit. Penyelidikan tengah dilakukan dan para pemilik tiga perusahaan obat setempat ditahan untuk diinterogasi.

Kepolisian setempat mengatakan penyelidikan awal menunjukkan bahwa obat yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan lokal "tidak memenuhi standar".

'Lamban'

"Sanak keluarga korban meninggal menyalahkan pemerintah karena lamban bertindak."

Ilyas Khan

Wartawan BBC di ibukota Pakistan Islamabad, Ilyas Khan, melaporkan sejumlah sampel obat dikirim ke Inggris dan Prancis untuk diuji sehingga diperlukan waktu beberapa hari lagi sebelum secara pasti diketahui obat yang bermasalah.

"Sanak keluarga korban meninggal menyalahkan pemerintah karena lamban bertindak," kata Khan.

Namun, lanjutnya, para pejabat menekankan mereka baru menemukan kaitan antara obat jantung dengan kematian warga ketika mereka menyadari semua pasien yang meninggal dunia merupakan pasien jantung yang telah mengkonsumsi obat itu.

Menurut para pejabat Pakistan, hampir 600.000 pasien jantung diberi obat gratis di Lahore setiap tahun.

Sekarang mereka dikecam karena mendapatkan obat murah dari produsen lokal dan bukannya membeli dari sumber-sumber yang bisa dipercaya.

Persoalan ini muncul pertama kali Desember lalu ketika 23 pasien jantung yang menggunakan obat yang sama meninggal dunia.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.