BBC navigation

PBB desak dunia perhatikan Sudan Selatan

Terbaru  21 Januari 2012 - 11:09 WIB
Sudan Selatan

Minyak bumi menjadi berkah sekaligus masalah bagi Sudan Selatan yang baru merdeka.

PBB memperingatkan dunia akan peluang memburungkan masalah kemanusiaan di Sudan Selatan sebagai buntut pertikaian antar suku di negeri baru itu.

PBB memperkirakan kini lebih dari 120.000 orang di Sudan Selatan membutuhkan bantuan kemanusiaan, jumlah ini lebih besar dua kali lipat dibanding perkiraan semula.

Serangkaian perampokan ternak di Negara Bagian Jonglei memicu perang antara suku Lou Nouer dan Murle bulan lalu yang mengakibatkan puluhan orang tewas dan puluhan ribu mengungsi.

Selain itu, perseteruan antara Sudan dan Sudan Selatan juga semakin meningkat hanya enam bulan setelah kedua negara itu terpecah.

Kondisi di Sudan Selatan itulah yang memicu Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon meminta dunia internasional meningkatkan perhatiannya ke negeri baru itu.

"Sekjen Ban sangat prihatin atas ketegangan yang berlanjut di sepanjang perbatasan Sudan dan Sudan Selatan, termasuk krisis minyak belakangan ini," kata juru bicara PBB Martin Nesirky.

Berebut minyak

Setelah serangkaian kekerasan di perbatasan yang disengketakan, pemerintah Sudan Selatan akhirnya memutuskan menunda produksi minyak mentahnya.

"Sekjen Ban sangat prihatin atas ketegangan yang berlanjut di sepanjang perbatasan Sudan dan Sudan Selatan, termasuk krisis minyak belakangan ini."

Martin Nesirky

Sudan Selatan menuding Sudan mencuri minyak yang dialirkan melewati wilayah negeri itu.

"Situasi ini menunjukkan adanya peningkatan memanasnya hubungan antara kedua negara," lanjut Nesirky.

"Sekjen mendesak semua pihak melakukan segala upaya untuk menciptakan kesepakatan di antara kedua negara," kata Nesirky.

Sejauh ini PBB mendukung upaya Uni Afrika yang menjadi sponsor perundingan kedua negara yang akan digelar di Addis Ababa, Ethiopia.

Sudan Selatan resmi berpisah dari Sudan pada Juli tahun lalu di bawah kesepakatan damai 2005 yang mengakhiri perang saudara selama dua dekade yang menewaskan hampir dua juta orang.

Meski sudah menjadi dua negara terpisah, keduanya masih bersengketa soal perbatasan, pembagian pendapatan dari minyak mentah dan bagaimana membagi utang yang muncul sebelum kedua negara berpisah.

Kedua pemerintah saling melempar tanggung jawab dan saling menyalahkan yang menyulut ketegangan politik.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.