
Serangan bom mobil diarahkan kepada warga pemeluk Syiah di Mosul, Irak utara.
Sedikitnya delapan orang tewas dan lima lainnya cedera dalam serangan bom mobil di Mosul, Irak utara, Senin 16 Januari.
Sasaran serangan adalah pemeluk Syiah yang tinggal di pinggiran Mosul, yang sebagian besar penduduknya merupakan warga Sunni.
Bom meledak pagi hari di kawasan tempat tinggal komunitas Shabak yang mengungsi dari Mosul akibat konflik sektarian beberapa tahun lalu.
Serangan bom terbaru ini terjadi setelah seorang pembom bunuh diri menewaskan 50 orang lebih dengan sasaran para jemaah Syiah di Basra, Irak selatan, Sabtu 14 Januari.
Hari Minggu, tujuh orang tewas ketika kelompok pemberontak menyerbu sebuah kantor polisi di Ramadi, di sebelah ibukota Baghdad.
Komunitas Shabak merupakan kelompok minoritas di Irak yang sebagian besar merupakan penganut Syiah dan memiliki hubungan kuat dengan warga etnis Kurdi.
Krisis politik
"Mereka ingin menghasut kerusuhan sektarian, namun mereka tidak akan berhasil."
Abu Ibrahim
Seorang warga di Mosul, Abu Ibrahim, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa rakyat miskin yang harus membayar konflik politik di Irak.
"Mereka ingin menghasut kerusuhan sektarian, namun mereka tidak akan berhasil," tegasnya.
Krisis politik di Irak meningkat belakangan ini antara mayoritas Syiah dengan minoritas Sunni sejak pasukan Amerika Serikat ditarik mundur, Desember tahun lalu.
Surat penangkapan sudah dikeluarkan untuk politisi senior Sunni, Wakil Presiden Tariq al-Hashemi, yang didakwa dengan terorisme.
Dia sudah mengungsi ke kawasan yang dikuasai masyarakat Kurdi Irak utara dan membantah tuduhah atasnya.










