Reaksi internasional atas wafatnya Kim Jong-il

Terbaru  19 Desember 2011 - 22:50 WIB
Warga Korea Utara

Wafatnya Kim Il-sung membuka pertanyaan tentang kepemimpinan putranya, Kim Jong-un.

Kematian Kim Jong-il telah menyebabkan kegoncangan di negara-negara tetangga, yang selama ini sudah gelisah karena progam nuklir Korea Utara.

Korea Selatan mengatakan angkatan bersenjatanya dalam keadaan siaga. Seorang pejabat yang tidak disebutkan namanya megatakan Pyongyang melakukan uni coba rudal jarak dekat pada Senin pagi sebelum pengumuman resmi wafatnya Kim Jong-il.

Di Jepang, kabinet melakukam pertemuan darurat untuk sedangkan Cina -yang merupakan pendukung utama Korea Utara- menyampaikan keyakinan atas Kim Jong-un.

Putra Kim Jong-il yang berusia 29 tahun itu sudah berkunjung ke Beijing tahun lalu.

Media resmi Korea Utara sudah meminta agar warga bersatu dalam mendukung Kim Jong-un dan menyebutnya sebagai 'penerus agung'.

Namun ketidakpastikan akan suksesi kepemimpinan saat ini jauh lebih besar dibanding ketika Kim Jong-il menggantikan ayahnya Kim Il-sung yang wafat pada tahun 1994.

Masa depan Korut

Banyak warga Korea Utara yang belum pernah melihat Kim Jong-un sampai tahun lalu, ketika dia mulai dimunculkan di panggung politik dan tampil mendampingi ayahnya dalam beberapa kesempatan.

"Saya kira penting untuk tetap berpikir bahwa Korea Utara pada dasarnya adalah kejahatan yang diorganisir sebuah keluarga yang berkedok pemerintah."

Peter King

Calon pemimpin ini oleh banyak pihak masih dianggap belum berpengalaman untuk memimpin Korea Utara, yang masih menempuh kebijakan menutup diri dari komunitas internasional.

Bagaimanapun dalam pernyataannya, pemerintah Cina menegaskan keyakinan aas Korea Utara dalam menjaga perdamaian di semenanjung Korea tetap berlanjut.

"Cina dan Korea Utara akan berupaya bersama untuk meneruskan sumbangan yang positif untuk konsolidasi dan pembangunan tradisi persahabatan antara kedua partai, pemerintah, dan warga, serta melestarikan perdamaian dan stabilitas di semenanjung Korea dan kawasan," seperti disampaikan juru bicara Kementrian Luar Negeri Cina, Liu Weimin.

Sementara itu Rusia mengharapkan berlanjutnya hubungan baik dengan Pyongyang dan Amerika Serikat menegaskan kembali komitmennya kepada keamanan Korea Selatan.

Tapi seorang anggota Kongres Amerika Serikat, Peter King, meragukan masa depan Korea Utara setelah wafatnya Kim Jong-il.

"Saya kira penting untuk tetap berpikir bahwa Korea Utara pada dasarnya adalah kejahatan yang diorganisir sebuah keluarga yang berkedok pemerintah. Kim Jong-il adalah pria yang sinting dan tiran. Putranya, Kom Jong-un harus diasumsikan berasal dari pakaian yang sama dan akan menjadi jenis pemimpin yang sama," tuturnya dalam wawancara dengan Stasiun TV ABC.

Kim Jong-il sudah lama diberitakan dalam keadaan tidak sehat dan meninggal dunia pada usia 69 tahun ketika sedang berada di dalam kereta api, Sabtu 19 Desember.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.