Usulan traktat baru untuk menangani krisis utang Eropa

Terbaru  5 Desember 2011 - 22:44 WIB
Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy.

Angela Merkel dan Nicolas Sarkozy menyampaikan pernyataan bersama setelah pertemuan.

Prancis dan Jerman sepakat bahwa Uni Eropa memerlukan traktat baru untuk menangani krisis utang di kawasan pengguna mata uang euro.

Hal tersebut disampaikan lewat pernyataan bersama Presiden Prancis, Nicolas Sarkozy, dan Kanselir Jerman, Angela Merkel, setelah menggelar pertemuan di Paris, Senin 5 Desember.

Keduanya mengatakan negara-negara pengguna mata uang euro harus menghadapi pemeriksaan yang lebih meluas atas anggarannya dan mendapat sanksi jika menghadapi defisit yang melebihi batas.

Kanselir Merkel mengatakan Prancis dan Jerman ingin melihat perubahan struktural yang jauh dari sekedar kesepakatan.

"Paket ini memperlihatkan bahwa kami amat bertekad untuk menjaga euro sebagai mata uang yang stabil dan sebagai penyumbang yang penting dalam stabilitas Eropa," tuturnya.

Sebatas 17 negara

Sementara Sarkozy mengatakan traktat baru diperlukan untuk menegaskan kepada warga Eropa dan negara pengguna mata uang euro bahwa keadaan seperti saat ini tidak bisa berlanjut.

"Paket ini memperlihatkan bahwa kami amat bertekad untuk menjaga euro sebagai mata uang yang stabil dan sebagai penyumbang yang penting dalam stabilitas Eropa."

Angela Merkel

Kedua pemerintah mengharapkan perubahan traktat tersebut bisa diterapkan terhadap 27 anggota Uni Eropa. Namun jika itu tidak mungkin maka hanya di kalagan 17 negara yang menggunakan mata uang euro.

Sarkozy juga mengatakan bahwa surat berharga dari negara-negara pengguna euro bukan jalan ke luar dari krisis utang saat ini.

Diperkirakan usulan tentang traktat baru itu akan dirundingkan segera pada bulan Maret.

Salah satu gagasan dalam usulan traktat baru adalah penerapan sanksi otomatis atas setiap negara yang melanggar peraturan defisit sebesar 3%.

Selain itu kepala negara pengguna mata uang euro akan bertemu setiap bulan selama krisis utang masih mengancam.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.