Peringatan pemimpin militer Mesir atas demonstran

Terbaru  27 November 2011 - 21:15 WIB
Ganzouri (kiri) dan Tantawi

Calon Perdana Menteri Mesir Kamal Ganzouri (kiri) dan Hussein Tantawi.

Pemimpin militer Mesir mengatakan ia tidak akan membiarkan "para pengacau" mengganggu pemilihan parlemen dan memperingatkan "konsekuensi berat" bila negara itu tidak mampu mengatasi krisis.

Hussein Tantawi mengatakan ia tidak akan membiarkan kelompok manapun menekan angkatan bersenjata.

Tantawi juga mendesak dua calon presiden, Mohammed ElBaradei dan Amr Moussa untuk mendukung orang yang ia calonkan sebagai perdana menteri minggu lalu, Kamal Ganzouri.

Pernyataan Tantawi ini muncul di tengah rencana ribuan demosntran untuk melakukan unjuk rasa lagi.

Calon PM - Kamal Ganzouri

  • Lahir tahun 1933
  • Ekonom lulusan Amerika Serikat
  • Menjadi perdana menteri 1996-1999
  • Disebut "menteri kalangan miskin"
  • Menjaga jarak dari rezim lama setelah Mubarak jatuh
  • Dianggap sebagai calon dalam pemilihan presiden

Banyak pihak yang meragukan pemilihan dapat dilaksanakan atau tidak karena kekerasan yang terjadi dalam minggu-minggu terakhir ini di Mesir.

Pemilihan umum yang direncanakan Senin (28/11) merupakan langkah pertama jadwal pemilu yang akan berlangsung sampai Maret 2012 dan meliputi dua majelis di parlemen.

Para pengunjuk rasa khawatir Dewan Militer Mesir (Scaf), yang dipimpin Tantawi dan bertugas mengawasi transisi ke pemerintahan sipil, mencoba mempertahankan kekuasaan.

Hambatan berbahaya

Tantawi mengatakan militer akan menjamin keamanan selama pemilu dan menekankan pemungutan suara akan tetap berlangsung sesuai jadwal.

Para pengunjuk rasa menuntut agar pemerintahan militer diakhiri sebelum pemilu diselenggarakan. Namun ada pula sejumlah demonstran yang menyatakan dukungan terhadap pemerintahan sementara militer.

"Kami tidak akan membiarkan pengacau mengganggu pemilu," kata Tantawi dalam komentar yang dikutip di situs surat kabar pemerintah Al-Ahram.

"Kita berada di persimpangan jalan. Hanya ada dua rute, berhasil dalam pemilu atau menghadapi hambatan berbahaya yang tidak akan kami biarkan," tambahnya.

Lebih dari 40 orang meninggal dan sekitar 2.000 lainnya terluka minggu lalu setelah pasukan pemerintah berupaya membubarkan unjuk rasa terparah sejak jatuhnya Hosni Mubarak.

Para pengamat mengatakan pemilu hampir pasti tetap akan dilaksanakan namun prosedur pemungutan suara rumit dan tidak banyak waktu untuk berkampanye.

Akibatnya, tidak jelas berapa banyak orang yang akan memberikan suaranya.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.