
Lebih dari 20 orang tewas dalam kekerasan yang terjadi di Mesir.
Kabinet Mesir menawarkan pengunduran diri menyusul protes menentang kekuasaan militer di negara itu, selama tiga hari terakhir.
Seperti diberitakan media milik pemerintah, Juru bicara Kabinet Mohammed Hegazy mengatakan pengunduran diri belum diterima oleh Dewan Militer.
"Pemerintah PM Essam Sharaf telah mengajukan pengunduran diri kepada Dewan tinggi pasukan militer," kata juru bicara Mohammed Hegazy, dalam pernyataan yang diberitakan oleh Kantor Berita Mena.
"Melihat persoalan yang rumit yang terjadi di negara ini, pemerintah akan terus bekerja (sampai pengunduran diri diterima)."
Sementara itu, ribuan orang masih melancarkan protes di Lapangan Tahrir Kairo.
Lebih dari 20 orang tewas dan 1.800 orang mengalami luka-luka dalam tiga hari protes yang diwarnai dengan tindak kekerasan di ibukota Mesir itu.
Kelompok aktivis Mesir mendesak militer untuk mengalihkan kekuasaan kepada pemerintah sipil.
Sumber miiliter mengatakan kepada BBC, bahwa pertemuan dewan sedang dilakukan untuk membahas tawaran kabinet, tetapi belum ada konsensus apakah akan diterima atau tidak.
Sumber yang sama mengatakan dewan juga berkonsultasi dengan kelompok politik yang lain.
Wartawan BBC di Kairo, Yolande Knell mengatakan kerumunan massa di Lapangan Tahrir menyerukan dan meneriakkan "Tuhan maha besar" ketika mereka mendengar berita bahwa kabinet telah menyerahkan pengunduran diri.
Bagaimanapun, para demonstran menginginkan agar pemimpin Dewan Tinggi pasukan keamanan Mohamed Tantawi, untuk mundur.
Jenderal yang berkuasa itu merupakan fokus kemarahan para demonstran, seperti dilaporkan wartawan BBC. Kabinet sementara tampaknya hanya memiliki kekuasaan yang kecil.
Kresponden BBC melaporkan, ribuan orang kembali berkumpul di Lapangan Tahrir dan sebagian berencana untuk menginap disana.
Protes juga terjadi di kota lain di Mesir, termasuk Alexandria dimana polisi mengatakan telah menembakan gas air mata untuk melindungan kantor pasukan keamanan.










