bbc.co.uk navigation

Arbitrase darurat untuk pemogokan Qantas

Terbaru  30 Oktober 2011 - 11:51 WIB
Penumpang Qantas

Ribuan penumpang Qantas terlantar di seluruh dunia akibat penghentian penerbangan.

Pemerintah Australia memerintahkan digelarnya sidang arbitrase darurat pada Minggu (30/10) setelah Qantas Airways menghentikan semua penerbangan internasionalnya akibat pemogokan karyawan.

Penghentian penerbangan ini sejak Sabtu (29/10) membuat ribuan penumpang maskapai terbesar ke-10 di dunia ini terlantar di berbagai bandara di seluruh dunia.

Pemerintah Australia dalam sidang itu diperkirakan bakal memaksa Qantas untuk menerbangkan pesawatnya lagi dengan alasan kepentingan nasional.

Sementara itu, CEO Qantas, Alan Joyce menjamin maskapai itu akan kembali beroperasi jika tiga hakim pengadilan arbitrase memerintahkan agar Qantas kembali terbang.

"Dalam enam jam kami bisa menerbangkan kembali armada kami. Kami menunggu perkembangan hari ini," kata Joyce merujuk sidang arbitrase.

Qantas yang menerbangkan 70.000 orang penumpang sehari mengatakan 108 pesawat tidak diterbangkan di 22 bandara di seluruh dunia.

Sayangnya Qantas tak menjelaskan jumlah seluruh pesawat yang tidak diterbangkan.

Tetapi, setidaknya 13.000 penumpang tercatat telah memiliki tiket menuju Australia dari seluruh dunia dalam rentang waktu 24 jam sejak penghentian penerbangan dimulai.

Tak pengaruhi AS

Meski sangat berpengaruh bagi Australia, penghentian penerbangan Qantas tak terlalu berpengaruh di Amerika Serikat.

"Dalam enam jam kami bisa menerbangkan kembali armada kami. Kami menunggu perkembangan hari ini."

Alan Joyce

"Bukan masalah besar. Setiap hari hanya sekitar 1.000 penumpang menuju Australia dari Amerika,"kata konsultan penerbangan, Michael Boyd.

Juru bicara Bandara Internasional Los Angeles, Diana Sanchez mengatakan tidak ada penumpang Qantas yang terlantar di bandara tersebut.

"Lima penerbangan Qantas dari Los Angeles sudah berada di udara saat penghentian diberlakukan dan dijadwalkan kelima pesawat itu mendarat sesuai jadwal," kata Sanchez.

Masalah besar terjadi di bandara-bandara yang menjadi pusat tujuan tersibuk Qantas seperti di Singapura dan Bandara Heathrow, London.

"Para penumpang yang sudah terlanjur memiliki tiket harus merancang ulang penerbangannya dalam 24 jam dan Qantas yang membayar penerbangan baru ke maskapai lain," kata juru bicara Qantas, Tom Woodward.

Aksi mogok karyawan ini dipicu rencana Qantas untuk merestrukturisasi manajemen demi mengurangi kerugian terutama yang berkaitan dengan penerbangan internasional.

Untuk itu, Qantas berencana membentuk maskapai baru yang berbasis di Asia dalam lima tahun mendatang. Sayangnya rencana ini setidaknya berimbas pada pengurangan sedikitnya 1.000 karyawan.

Aksi mogok yang melibatkan pekerja bagasi, teknisi dan pilot ini merugikan perusahaan sebesar A$15 juta atau sekitar Rp141 miliar lebih dalam sepekan.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2012 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.