PM Jepang Naoto Kan mengumumkan pengunduran dirinya

Terbaru  26 Agustus 2011 - 15:42 WIB
PM Jepang, Naoto Kan

Naoto Kan memang sudah berjanji di depan parlemen akan mengundurkan diri.

Perdana Menteri Jepang, Naoto Kan -yang selama ini berada di bawah tekanan besar sehubungan dengan bencana dan tsunami Jepang- telah mengumumkan pengunduran dirinya.

Kan mendapat kecaman karena dianggap tidak memperlihatkan kepemimpinan pasca gempa dan tsunami pada 11 Maret 2011, yang kemudian menyebabkan krisis nuklir Jepang.

Pengunduran ini sekaligus membuka jalan untuk pemilihan perdana menteri yang keenam dalam waktu lima tahun belakangan.

Bulan Juni, Kan sudah berjanji akan mengundurkan diri jika parlemen mensahkan tiga RUU -antara lain tentang energi terbarukan- yang akhirnya disahkan hari ini Jumat 26 Agustus.

Partai Demokrat Jepang, DPJ, yang berkuasa akan memilih pemimpin barunya -yang hampir dipastikan akan langsung menjadi perdana menteri- Senin (29/08) pekan depan.

Pengumuman pengunduran diri disampaikan Kan dalam pertemuan DPJ dan rencananya dia akan menggelar konferensi pers hari ini juga.

Saat menyatakan pengunduran diri di kalangan partainya, Kan mengatakan sudah menempuh semua yang bisa dilakukannya untuk masalah yang dihadapinya. termasuk diantaranya bencana nuklir reaktor Fukushima dan pertarungan politik internal DPJ.

"Di bawah situasi yang keras, saya merasakan sudah melakukan semua hal yang harus saya lakukan," tuturnya.

Gonta-ganti PM

  • Naoto Kan (Jun 10-Aug 11) : kehilangan dukungan pasca bencana gempa dan tsunami
  • Yukio Hatoyama (Sep 09-Jun 10) : gagal mewujudkan janji kampanye sehubungan dengan pangkalan militer AS di Okinawa.
  • Taro Aso (Sep 08-Sep 09) : banyak mengeluarkan pernyataan yang keliru dan kalah dalam pemilihan.
  • Yasuo Fukuda (Sep 07-Sep 08) : berjuang untuk mensahkan UU setelah DPJ alih kendali di majelis tinggi.
  • Shinzo Abe (Sep 06-Sep 07) : pemerintah di bawahnya paling tidak populer karena skandal.

"Kini saya ingin melihat anda memilih seseorang yang dihormati sebagai perdana menteri baru."

Tugas berat

Tak lama setelah bencana gempa dan tsunami yang melanda Jepang, popularitas Naoto Kan turun pesat.

Pada tanggal 2 Juni bahkan dia menghadapi mosi tidak percaya di parlemen Jepang, Diet, sehingga dia tidak punya pilihan kecuali berjanji akan mengundurkan diri di kemudian hari.

Diet akhirnya mensahkan dua dari tiga RUU, yaitu tentang anggaran dan negeri yang terbarukan, yang menurutnya menjadi persyaratan bagi pengunduran dirinya.

Perdana menteri yang baru akan mengadapi tugas berat berupa upaya rekonstruksi yang terbesar di Jepang sejak Perang Dunia II dan memecahkan krisis di reaktor Fukushima, yang sampai saat ini masih membocorkan radiasi.

Selain itu masih diperlukan lagi upaya untuk meyakinkan pasar bahwa dia bisa mengatasi perbedaan di parlemen sehubungan dengan utang besar yang ditanggung Jepang, seperti dilaporkan wartawan BBC Roland Buerk dari Tokyo.

Calon kuat yang disebut-sebut sebagai perdana menteri Jepang yang baru adalah mantan Menteri Luar Negeri Seiji Maehara, seorang pegiat politik yang beraliran bahwa Jepang harus mengejar pertumbuhan ekonomi lebih dulu sebelum meningkatkan pajak juga memulikan kesehatan fiskal nasional.

Beberapa nama lain yang muncul sebagai calon PM adalah Menteri Keuangan, Yoshihiko Noda, Menteri Perdagangan, Banri Kaieda, dan Menteri Pertanian, Michihiko Kano.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.