Asia belum punya rumus ekonomi tepat

Terbaru  12 Juni 2011 - 14:41 WIB

Kekhawatiran krisis pangan dunia disebutkan dalam Forum Ekonomi Dunia - Asia timur di Jakarta.

Asia belum mampu menemukan rumus tepat menghadapi hambatan dalam pertumbuhan ekonominya, meski muncul prediksi perekonomiannya akan menjadi yang terbesar di dunia dalam dekade mendatang.

Dalam beberapa sesi Forum Ekonomi Dunia - Asia Timur di Jakarta hari Minggu (12/06), sejumlah pembicara menyatakan meski terus tumbuh, ekonomi Asia bisa berjalan lebih cepat dan efektif mengahadapi persoalan kesenjangan antar negara dan pendapatan anta kaya-miskin, jika saja hambatan-hambatan tersebut dilalui.

Dalam forum yang dihadiri pelaku bisnis dunia, pimpinan pemerintahan serta wakil masyarakat sipil ini, para pembicara menyebut persoalan jaminan pasokan pangan
pengangguran, bencana alam serta konflik politik sebagai bagian dari masalah terbesar ekonomi Asia.

"Di Afrika angka pengangguran usia muda mencapai 42 persen, dan ini sangat mengkhawatirkan. Asia harus melihat ini sebagai persoalan serius yang bisa menghambat pertumbuhannya," kata Domici Barton, Direktur Utama pada kantor konsultan McKinsey & Co dari Inggris.

Sementara intu menurut Menteri Perdagangan Indonesia Mari Elka Pangestu, persoalan yang masih sangat mnghantui pertumbuhan ekonomi negara Asia serta dunia pada
umumnya adalah kekhaawatiran terkait krisis pangan global.

"Sekarang yang harus ditemukan adalah formula untuk mencegah situasi (krisis pangan) 2008 muncul kembali. Sayangnya, kita gagal menggolkan agenda paket pertanian di putaran Doha," kata Mari.

Agenda perundingan Organisasi perdagangan dunia WTO, terkait isu pertanian, akan sangat membantu mengatasi berbagai kekhawatiran dan kepanikan banyak negara terkait isu pangan.

"Disetujui beberapa isu saja, sudah akan sangat membantu," tambah Mari.

Disisi lain, persoalan politik dan keamanan juga masih jadi persoalan sejumlah negara untuk mengembangkan kemitraan dan memajukan kerjasama perdagangan.

"Ada krisis laut Cina Selatan antara Cina dan sejumlah negara Asia, ada persoalan di Korea, kemudian konflik bilateral kawasan Asia," ulas Kishore Mahbubani, Dekan pada sekolah kebijakan publik Lee Kuan Yew, Singapura.

Menurut Mahbubani, berbagai masalah itu tidak boleh dianggap sebagai hal biasa, karena berpotensi menganggu pertumbuhan ekonomi bukan saja negara yang terlibat konflik, tetapi juga kawasan sekitarnya terutama bila melibatkan raksasa ekonomi Asia seperti Cina dan Jepang.

Tidak ada langkah bersama

Namun para panelis berpendapat, hampir semua masalah dapat dipecahkan bila ada landasan bersama dalam kebijakan masing-masing negara.

"Jaminan keamanan pasokan pangan bisa diatasi, atau diperbaiki, jika ada lalu lintas informasi tentang pangan yang memadai natar negara," kata Mari.

Menurut Mari selama ini pasokan pangan menjadi obyek permainan harga spekulan yang mempermainkan harga, karena tidak ada data yang bisa menjelaskan situasi pangan masing-masing negara sesungguhnya.

"Jika data dibuat transparan, masing-masing akan mengetahui pasokan dan cadangan masing-masing dan itu akan mempermudah upaya mengatasinya. Tidak sama sekali menghilangkan persoalan krisi pangan, tetapi harga akan lebih mudah dikendalikan bukan menyebabkan situasi panik," tambahnya.

Langkah bersama mengatakan berbagai isu juga diserukan Kishore Mahbubani yang menyatakan bahwa para pemimpin Asia cenderung mengatasi persoalan dengan pendekatan nasional, meskipun masalah bersakala global.

"Sangat tidak logis. Yang terjadi (di Asia) adalah bertambahnya persoalan global tetapi diikuti justru diikuti dengan pemimpin yang mengambil kebijakan skala nasional," kritik Kishore Mahbubani.

Saat ini Asia Timur menjadi kekuatan ekonomi yang makin diperhitungkan di dunia, menyusul berlakunya rencana masyarakat ekonomi ASEAN 2015. Di kawasan ASEAN saja terdapat 600 juta jiwa dan diperkirakan akan tumbuh menjadi ekonomi terbesar kesepuluh dunia setelah pasar bersama ASEAn 2015 berlaku.

Link terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.