Suriah 'hadapi pemberontak bersenjata'

Terbaru  19 April 2011 - 17:57 WIB
Massa demonstran Suriah berkumpul di Homs

Massa demonstran Suriah berkumpul di kota terbesar ketiga, Homs

Pemerintah Suriah menyatakan kerusuhan di di dua kota, Homs dan Baniyas, bisa dikatakan sebagai pemberontakan bersenjata.

Pernyataan itu dikeluarkan setelah ribuan demonstran menduduki pusat kota terbesar ketiga, Homs, hari Senin, dan bersumpah untuk bertahan sampai presiden Bashar al-Assad terguling.

Saksi mata mengatakan aparat keamanan menembak ke arah demonstran di Homs dan ada laporan bahwa lapangan tersebut telah dibebaskan dari demonstran.

Kalangan pembela HAM mengatakan sekitar 200 warga Suriah tewas dalam gelombang kerusuhan selama beberapa pekan.

Presiden Bashar mengumumkan hari Sabtu bahwa dia akan menghentikan penerapan kekuasaan darurat yang telah berlangsung hampir setengah abad pekan depan, sedangkan aparat juga telah mulai membebaskan tahanan politik.

Namun, gelombang kerusuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Suriah tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, lapor wartawan BBC Kim Ghattas di Beirut, ibukota negara tetangga, Libanon.

Dalam pernyataan Senin malam (18/4), kementerian dalam negeri Suriah mengatakan: ''Arah peristiwa-peristiwa terdahulu...telah menunjukkan bahwa itu semua pemberontakan bersenjata oleh organisasi-organisasi berhaluan Salafin, khususnya di Homs dan Baniyas.''

Pernyataan itu memperin gatkan ''kegiatan-kegiatan teroris tidak akan ditolerir''.

Salafi adalah versi keras aliran Sunni dalam Islam; pemerintah banyak negara Arab menyamakan kelompok-kelompok militan seperti al-Qaida.

Wartawan BBC mengatakan peringatan yang dikeluarkan oleh Suriah itu berarti aparat akan memberangus pembangkangan atas dasar perang melawan teroris.

Sedikitnya 5.000 demonstran menduduki Lapangan Jam di Homs hari Senin selepas pemakaman massal belasan demonstran yang tewas di tangan aparat keamanan pada akhir pekan.

'Lapangan dibersihkan'

Peta Suriah

Pos pemeriksaan didirikan di sekeliling lapangan untuk memastikan warga yang datang adalah warga sipil tidak bersenjata, dan massa demonstran menimbun perbekalan.

Salah seorang demonstran menyatakan nama tempat tersebut telah diganti menjadi Lapangan Tahrir. Nama ini meminjam lapangan utama di ibukota Mesir, Kairo, yang menjadi titik pusat kebangkitan warga untuk menggulingkan Presiden Hosni Mubarak.

Saksi mata mengatakan aparat keamanan melalui pengeras suara memerintahkan warga pulang sebelum menembakkan gas air mata, dan kemudian peluru tajam.

Seorang aktivis di ibukota Suriah, Damaskus, mengatakan kepada kantor berita AFP melalui telefon: ''Aksi duduk-duduk dibubarkan paksa. Ada tembakan gencar.''

Kantor berita resmi Suriah, Sana juga melaporkan peristiwa di Homs.

Lembaga berita itu mengatakan tiga perwira militer, termasuk seorang brigadir jenderal, bersama dengan dua putranya dan kemenakannya, dibunuh hari Minggu (17/4) oleh ''geng penjahat bersenjata'', yang kemudian mencabik-cabik jasad mereka.

Kota Baniyas di belahan utara Suriah juga menjadi ajang protes antipemerintah hari Senin.

Demonstrasi untuk mengecam pemerintah otoriter yang dimotori oleh Partai Baath menyebar setelah protes mulai terjadi di kota Deraa pertengahan Maret.

Gelombang kerusuhan ini merupakan ancaman paling serius bagi pemerintah Presiden Bashar al-Assad yang menggantikan ayahnya, Hafez al-Assad 11 tahun silam.

Link terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.