BBC navigation

Revolusi dunia Arab terhenti di Libia?

Terbaru  5 Maret 2011 - 12:51 GMT
Muammar Gaddafi

Gaddafi menunjukkan dia tak mudah disingkirkan dan tak segan mengorbankan nyawa rakyat

Belum jelas ke mana gelombang revolusi di dunia Arab akan berlanjut.

Gelombang kebangkitan rakyat Arab yang dimulai di jalan-jalan ibukota Tunisia, Tunis bulan Januari lalu bisa dikatakan masih belum kandas di pantai.

Dari Maroko sampai Muscat, para pemimpin negara-negara Arab sekarang mendapat pesan yang jelas bahwa status quo yang telah ada di negara mereka selama bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun, tidak bisa diterima oleh sebagian besar rakyat.

Gelombang unjuk rasa berbeda di tiap negara - tidak benar bila kita mengira kebangkitan itu merupakan satu gerakan dengan oposisi yang bersatu dan memiliki agenda yang sama.

Namun masih bisa dilihat kemiripan di berbagai tempat di kawasan itu.

Ya, rakyat semua negara yang dilanda gelombang demonstrasi menginginkan pekerjaan dan kesempatan, menentang harga makanan yang tinggi dan korupsi.

Tetapi banyak pula orang, terutama di kalangan anak muda kota yang berpendidikan, yang menginginkan lebih dari kenyamanan ekonomi.

Mereka menginginkan sistem politik yang tidak dicengkram keras oleh tangan besi pemerintah yang otoriter.

Pemimpin dunia Arab khawatir

Jadi di balik pintu istana sultan-sultan Arab yang berlapis emas dan istana para presiden Arab yang dijaga ketat, pertanyaan mendasar yang ditanyakan oleh lingkungan pemerintah negara-negara Arab adalah: apa yang bisa kita tawarkan sambil tetap mempertahankan kekuasaan?

Aksi demonstrasi di Casablanca, Maroko

Gelombang unjuk rasa menyebar di dunia Arab, dari Tunis sampai ke Casablanca

Ketika Tunisia dan Mesir menggulingkan presiden mereka dalam waktu yang singkat, banyak pengamat memperingatkan akan ada "efek domino" dan kawasan itu dipenuhi spekulasi bahwa rezim-rezim Arab yang otoriter pada akhirnya akan ditumbangkan satu per satu.

Pertanyaan satu-satunya, kata orang, adalah siapa yang akan tumbang berikutnya? Sementara itu, kita menyaksikan banyak pemimpin negara Arab yang memberikan konsesi terburu-buru karena mereka panik mengenai kelangsungan rezim mereka.

Presiden Yaman berjanji akan turun tahun 2013, Raja Yordania memecat kabinetnya, Aljazair mencabut undang-undang darurat sementara Arab Saudi dan Bahrain mengumumkan pemberian uang tunai kepada rakyat dalam jumlah besar.

Gaddafi pemadam api revolusi?

Semua orang mengetahui bahwa langkah-langkah itu hanya merupakan "obat" sementara, bukan penyelesaian jangka panjang.

Namun berbagai peristiwa yang terjadi di Libia saat ini meredupkan perkiraan akan terjadi perubahan cepat dan drastis di dunia Arab.

Kalau saja pemimpin Libia Muammar Gaddafi dan keluarganya bisa digulingkan dalam beberapa hari, momentum revolusi di Tunis dan Kairo bisa dipertahankan.

Tetapi rezim Libia, seperti yang sudah kita saksikan seminggu terakhir ini, balik memerangi para penentangnya, menggunakan kekuatan militer besar dan propaganda.

Kalaupun Kolonel Gaddafi akhirnya terguling beberapa hari, bulan atau tahun lagi, tampak jelas bahwa dia tidak mudah digulingkan dan akan banyak nyawa yang dikorbankan.

Profesor sejarah hubungan internasional di Universitas Cambridge, Brendan Simms mengatakan: "Libia adalah titik tempat api revolusi dari Tunisia dan Mesir mungkin bisa dipadamkan. Risikonya sangat tinggi sekarang."

Link terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.