Terbaru  4 Januari 2011 - 12:10 GMT

Bashir kunjungi Sudan selatan

Omar al-Bashir kunjungi Sudan selatan

Kunjungan Omar al-Bashir ke Sudan selatan mungkin yang terakhir kalinya

Presiden Sudan Omar al-Bashir tiba di Juba, ibu kota Sudan selatan, lima hari sebelum pelaksanaan referendum memisahkan diri.

Bashir akan mengadakan pembicaraan dengan pemimpin wilayah semi otonomi Salva Kiir. Kedua tokoh ini berseberangan selama perang saudara dalam dua dasa warsa belakangan.

Klik Referendum ini merupakan bagian dari perjanjian damai tahun 2005 yang mengakhiri konflik.

Para pejabat mengatakan hampir empat juta orang yang terdaftar dalam pemilu hari Minggu dan lebih dari 95% diantaranya berasal dari Sudan selatan.

Sebagian lainnya mendaftar di Sudan Utara dan delapan negara di luar negeri.

'Hampir pasti'

Bashir yang mengenakan jubah tradisional selatan ketika turun dari pesawat disambut bekas musuhnya Salva Kiir, yang merupakan politisi senior Sudan selatan.

Wartawan BBC James Copnall di Khartoum mengatakan banyak yang akan dibicarakan Bashir dan Kiir dalam pertemuan di Juba.

Referendum dipandang banyak pihak sebagai sumber ketegangan antara Sudan utara dan selatan.

Warga Sudan utara membenci gagasan wilayah selatan yang kaya minyak untuk memisahkan diri. Selain itu kedua pihak belum mencapai sejumlah kesepakatan pasca referendum seperti kewarganegaraan dan sumber daya alam seperti minyak.

Biasanya presiden akan menggunakan peluang kunjungan ini untuk mendesak warga selatan memberi suara bagi persatuan.

Namun wartawan BBC menyebutkan, sejumlah pejabat Sudan utara mulai terbuka dengan pandangan yang diyakini banyak orang bahwa wilayah selatan hampir pasti memisahkan diri.

Staff kami siap berjalan selama enam atau delapan jam untuk mencapai tempat pemungutan suara

Chan Reec Madut

Oleh karena itu kemungkinan kunjungan kepala negara Sudan ini ke Juba merupakan yang terakhir sebelum pemisahan diri.

Sudan kurang dipedulikan berbagai pemerintahan di Khartoum mulai masa kolonial. Disamping itu wilayah utara dan selatan memiliki perbedaan budaya, etnik dan sejarah.

hari Senin, juru bicara Komisi Referendum Sudan Selatan Chan Reec Madut mengatakan sudah "100% siap".

Sejumlah latihan diperlukan dan masih ada masalah akses ke tempat pemungutan suara di wilayah terpencil, katanya. Namun dia menegaskan bahwa masalah tersebut tidak akan mempengaruhi pemungutan suara.

"Staff kami siap berjalan selama enam atau delapan jam untuk mencapai tempat pemungutan suara," katanya.

Sementara itu juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika PJ Crowley mengatakan optimis akan referendum hari Minggu nanti dan kedua pihak tampaknya sepakat proses ini harus terbuka dan dapat dipercaya.

BBC navigation

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.