Terbaru  12 November 2010 - 15:48 GMT

'Perang mata uang'


Untuk melihat materi ini, JavaScript harus dinyalakan dan Flash terbaru harus dipasang.

Tukar format AV

Istilah 'perang mata uang' ini pertama kali dipakai oleh direktur pelaksana Dana Moneter Internasional dan menteri keuangan Brasil.

Direktur IMF Dominique Strauss-Kahn mengatakan kepada BBC bulan lalu bahwa ada tanda-tanda banyak negara berusaha menggunakan mata uang mereka 'sebagai senjata'.

Sementara itu menteri keuangan Brasil, Guido Mantega, mengatakan devaluasi kompetitif oleh negara-negara maju berujung pada perang dagang yang baru.

"Kita sedang berada di tengah-tengah perang mata uang internasional," kata Mantega kepada para pemimpin negara-negara industri bulan September lalu. "Perang ini mengancam kita karena akan merusak daya saing kami."

Tetapi arti dari perang ini?

Ada beberapa elemen utama, dua diantaranya memang cukup baru tetapi elemen pertama adalah masalah yang sudah lama terjadi.

Cina vs Amerika

Masalah yang sudah lama terjadi adalah kebijakan Cina mengatur mata uangnya dan membatasi gerakan nilai tukar yuan terhadap dolar Amerika Serikat.

Kebijakan Cina sudah melewati beberapa fase dan selama krisis keuangan, Cina kembali menjaga nilai tukar yuan agar tidak menguat terhadap dolar.

Direktur pelaksana IMF, Dominique Strauss-Kahn

IMF menduga mata uang saat ini dipakai sebagai 'senjata'

Cina berusaha agar nilai tukar yuan tetap rendah.

Sejak sebelum Konferensi Tingkat Tinggi G20 dimulai di Toronto bulan Juni, Cina mengurangi kontrolnya dan membiarkan yuan menguat terhadap dolar, tetapi menguat tidak lebih dari 2,5 persen (jika dihitung saat ini). Dan karena nilai tukar dolar Amerika menurun, nilai tukar yuan terhadap banyak mata uang lainnya juga menurun.

Kenapa Cina enggan nilai tukar yuan menguat terlalu banyak? Ada kekhawatiran yuan yang kuat akan membuat industri-industri berorientasi ekspor kehilangan daya saing. Kalau ini terjadi, dikhawatirkan banyak pekerja yang akankehilangan pekerjaan.

Kenaikan nilai tukar yuan terhadap dolar ini, belum memuaskan Amerika Serikat. Di dalam Amerika sudah lama ada keluhan bahwa Cina memanipulasi yuan agar daya saing barang-barang ekspornya tetap tinggi. Keluhannya adalah: "Kebijakan itu membuat banyak orang kehilangan pekerjaan di Amerika."

Kebijakan ekonomi AS

Banyak pihak di Amerika Serikat mengeluhkan Cina, tetapi apakah tangan mereka sendiri bersih? Beberapa negara di dunia mengatakan, tidak juga.

Nilai tukar dolar Amerika menurun tajam dalam beberapa bulan terakhir karena suku bunga sangat rendah. Jadi, para investor mencoba mencari bunga yang lebih tinggi di negara-negara ekonomi baru.

Mereka perlu membeli mata uang negara-negara tersebut untuk melakukan investasi. Perilaku seperti ini cenderung menguatkan nilai tukar mata uang negara-negara tersebut, sementara dolar yang mereka jual, nilainya cenderung turun.

Dampak ini diperburuk lagi oleh kebijakan Federal Reserve yang lain, dikenal dengan nama quantitative easing atau pelonggaran kuantitatif (maksudnya, mencetak uang).

Bank sentral Amerika akan mengucurkan dana US$600 miliar tahun depan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi. Dengan besaran rata-rata US$75 miliar per bulan, angka ini lebih tinggi dari perkiraan para analis.

Pada dasarnya lewat kebijakan ini, Federal Reserve akan membeli aset-aset keuangan dan uang yang dipakai untuk membeli itu harus diinvestasikan di tempat-tempat lain.

Dolar Amerika

Nilai dolar turun dan daya saing Amerika menjadi kuat

Jadi dolar yang lemah justru menguntungkan bagi Amerika- itu artinya kembali soal daya saing. Dolar yang lemah akan membantu para eksportir Amerika.

Defisit perdagangan Amerika Serikat sangat besar, jadi kalau ekspor meningkat, defisit akan semakin mengecil.

Beberapa kalangan bahkan mengatakan kebijakan Fed sebenarnya ditujukan untuk melemahkan dolar dan membantu pemulihan ekonomi Amerika dengan mengekspor lebih banyak.

Ekonomi-ekonomi baru

Kebijakan-kebijakan Federal Reserve justru menimbulkan gelombang pencarian untung dari negara-negara ekonomi baru. Pembelian mata uang negara-negara ekonomi baru ini justru membuat kurs mata uang mereka menguat, sehingga daya saing mereka melemah.

Ini juga menimbulkan resiko harga-harga di sektor properti dan pasar keuangan membubung tinggi tanpa mencerminkan nilai sebenarnya. Selain itu aliran dana yang masuk itu bisa juga tiba-tiba keluar seperti yang terjadi dalam krisis keuangan Asia akhir tahun 1990-an.

Jadi elemen ketiga dalam 'perang' mata uang ini adalah resistensi negara-negara ekonomi baru, dan resistensi beberapa negara maju juga.

Brasil dan Thailand sudah menggunakan pajak untuk memperlambat aliran dana asing. Jepang, Korea Selatan dan negara-negara yang lain sudah melakukan intervensi pasar uang dengan membeli mata uang asing. Harapannya, langkah ini bisa mencegah kenaikan nilai tukar mata uang mereka sendiri.

Ada pandangan bahwa mereka harus hidup dengan fakta itu. Tekanan agar mata uang negara-negara ekonomi baru ini menguat mencerminkan fakta bahwa perekonomian mereka tumbuh lebih kuat dibandingkan Amerika Serikat.

Memang sulit bagi mereka untuk mengendalikan nilai tukar mata uang mereka, tetapi intinya adalah perekonomian mereka relatif baik.

Ketidakseimbangan ekonomi

Perang mata uang ini erat kaitannya dengan tema lain yang banyak mengganggu para ahli ekonomi selama beberapa tahun, yaitu ketidakseimbangan ekonomi global.

Dalam istilah internasional, perdagangan di dunia itu tidak seimbang. Tetapi, persoalan yang paling sering menjadi fokus adalah "neraca perdagangan", yaitu perdagangan barang dan jasa ditambah beberapa produk keuangan lain, termasuk penerimaan uang dari para pekerja migran yang mengirim uang ke tanah air mereka.

Biasanya perdagangan adalah penyebab utama ketidakseimbangan neraca.

Beberapa negara memiliki surplus perdangan yang besar, seperti Cina, Jerman, Arab Saudi dan Rusia. Negara yang defisitnya terbesar adalah Amerika Serikat.

Perdagangan

Perdagangan global yang tidak seimbang erat kaitannya dengan perang kurs

Beberapa negara yang berada di pusat badai keuangan yang menimpa Eropa juga memiliki defisit yang besar, Yunani, Portugal dan Spanyol.

Sisi lain dari ketimpangan internasional ini adalah tingginya tingkat tabungan di negara-negara yang perdagangannya surplus seperti Cina, sementara tingkat tabungan masyarakat di negara-negara yang defisit seperti Amerika relatif rendah.

Tabungan masyarakat di Amerika dan negara-negara defisit lain sekarang semakin besar karena konsumen lebih sedikit meminjam uang setelah krisis ekonomi.

Tetapi ketimpangan internasional ini juga mencerminkan berapa besar pinjaman pemerintah dan di banyak negara-negara defisit, pinjaman itu semakin besar, mengimbangi peningkatan tabungan masyarakat.

Kenapa semua ini menjadi masalah? Negara-negara yang tabungan masyarakatnya meningkat tajam, ingin sekali bisa mengekspor lebih banyak. Mereka ingin menjual lebih banyak produk mereka di luar negeri karena konsumen mereka di dalam negeri menahan diri.

Keadaan inilah yang terjadi di Amerika, Inggris dan banyak negara lain. Mereka bisa mengekspor lebih mudah jika konsumen di Cina dan negara-negara surplus lainnya ingin membeli lebih banyak barang-barang impor.

Jadi menguatnya nilai tukar yuan Cina memang tidak akan bisa menyelesaikan semua masalah, tetapi mungkin akan membantu.

BBC navigation

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.