Terbaru  6 Oktober 2010 - 04:12 GMT

Pengadilan sipil pertama tahanan Guatanamo

Ahmed Khalfan Ghailani

Ghailani dipindahkan ke Teluk Guantanamo pada tahun 2006.

Pengadilan sipil pertama atas tahanan Teluk Guantanamo akan dimulai hari ini di New York.

Ahmed Khalfan Ghailani, warga negara Tanzania, dituduh membantu al-Qaida membunuh 224 orang dalam pemboman Kedutaan Besar Amerika Serikat di Tanzania dan Kenya tahun 1998.

Ghailani ditahan di Pakistan tahun 2004 namun dua tahun kemudian dibawa ke Guantanamo.

Pengadilan sipil ini dilihat sebagai ujian bagi pemerintahan Obama yang berjanji untuk menutup pangkalan militer Amerika Serikat di Guantanamo Januari tahun depan

Selama ini tahanan Guantanamo dibawa ke pengadilan militer.

Jika terbukti bersalah maka Ghailani diancam dengan hukuman mati.

Wartawan BBC di New York, Laura Trevelyan, mengatakan jika pengadilan pertama ini berhasil maka akan lebih mudah bagi pemerintah untuk mengadili Khalid Sheikh Mohammed, yang dianggap sebagai otak di belakang serangan 11 September.

Tuduhan penyiksaan

Ghailani merupakan orang yang beruntung karena menghadapi pengadilan yang sebenarnya di depan hakim yang sebenarnya.

Profesor Jonathan Turley

Ghailani -yang diperkirakan berusia 30 tahun- dituduh membeli kendaraan bermotor dan bahan peledak yang digunakan dalam serangan di Tanzania dan menjadi asisten pembantu Osama bin Laden.

"Ghailani merupakan orang yang beruntung karena menghadapi pengadilan yang sebenarnya di depan hakim yang sebenarnya," kata Profesor Jonathan Turley dari Universitas George Washington, seperti dikutip kantor berita AFP.

"Pemerintah tampaknya ingin memberi kesan bahwa mereka ingin mencoba dan jika berhasil mereka mungkin mengizinkan untuk pengadilan yang lain."

Ghailani menjadi tahanan yang menurut pemerintah Amerika Serikat memerlukan "interogasi tingkat tinggi" di penjara rahasia CIA, sebelum dipindah ke Teluk Guantanamo.

Penasehat hukumnya mengatakan dia disiksa saat diinterogasi.

Para penentang pengadilan sipil atas tersangka teroris mengatakan dengan pengadilan sipil maka rahasia-rahasia pemerintah bisa terungkap dan bukti-bukti yang diperoleh lewat penyiksaan tidak bisa diterima.

Adapun dalam kasus Ghailani, masalahnya adalah panjangnya tenggang waktu antara pengadilan dengan peristiwanya.

"Dia didakwa dengan kejahatan yang terjadi 12 tahun lalu. Itu masa yang panjang tanpa pengadilan. Saksi menjadi langka, bukti menjadi basi dan ingatan memudar," tutur Profesor Turley.

Hakim menolak keberatan yang diajukan pengacara Ghailani, yang berpendapat hak kliennya dilanggar karena masa penahanan tanpa penagdilan yang panjang dan perlakukan buruk selama di tahanan.

BBC navigation

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.