Terbaru  4 Juli 2010 - 12:53 GMT

Ribuan berduka atas ulama Libanon

Ayatollah Fadlallah

Fadlallah sering mengkritik kebijakan Amerika Serikat di Timur Tengah

Pernyataan duka mengalir dari berbagai penjuru dunia Islam menyusul wafatnya ulama terkenal Syiah Libanon, Ayatollah Sayyed Mohammad Hussein Fadlalah pada usia 74 tahun.

Ribuan pelayat, banyak diantara mereka menangis, berkumpul di luar masjid di pinggiran selatan Beirut, tempat tinggal Fadlallah untuk menyampaikan rasa turut berduka.

Dari pusat-pusat masyarakat Syiah di seluruh dunia berdatangan ungkapan duka, disamping rasa hormat terhadap kecendekiawanannya.

Dia dihormati karena keberpihakannya pada kaum tertindas, dan upayanya untuk menggalakkan hidup berdampingan antara berbagai komunitas yang berbeda di Libanon.

Warisannya termasuk karya tulis yang cukup banyak mengenai Islam, dan yayasan amal dan pendidikan yang ia dirikan.

Fadlallah, tokoh penting dalam pembentukan kelompok militan Hisbullah, dipandang sebagai pemimpin spritual setelah kelompok tersebut didirikan di tahun 1982.

Oleh Amerika Serikat, dia disebut sebagai teroris, namun memiliki banyak pengikut di kalangan kelompok Syiah, dan mendukung Revolusi Islam di Iran di tahun 1979.

Tetapi menurut beberapa laporan, di kalangan Syiah, dia dikenal sebagai ulama yang memiliki pandangan moderat, terutama mengenai posisi wanita dalam masyarakat Islam,

Ayatollah sudah menderita sakit selama beberapa minggu, dan terlalu lemah untuk memberikan kotbah sembahyang Jumat.

Dia dilarikan ke rumah sakit hari Jumat, setelah dilaporkan menderita pendarahan.

Ketika berita kematiannya muncul, stasiun televisi Hisbullah, Al-Manar segera menghentikan program lain untuk menampilkan gambarnya disertai pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran.

Pengecam kebijakan Amerika

Sumber di rumah sakit Behman Beirut memberitahu kantor berita mengenai meninggalnya Fadlallah, sebelum seorang juru bicara ulama tersebut muncul dari dalam rumah sakit mengukuhkan berita.

Menurut laporan kantor berita AP, di kawasan Haret Hreik, dimana Ayatollah biasa memberikan kotbah di mesjid al-Hassanayn, bentangan kain berwarna hitam segera dipasang, dan para wanita tampak menangis d jalan-jalan.

Dilahirkan dari keluarga Libanon, di kota suci Syiah Najaf di Irak, Fadlallah pindah ke Libanon di tahun 1966 setelah menyelesaikan pendidikannya.

Dia banyak memiliki pengikutnya baik di Irak, maupun di Libanon, dan menyebar juga di kawasan Asia Tengah dan Teluk.

Dia dianggap sebagai penasehat spiritual Hisbullah ketika kelompok ini didirikan di tahun 1982.

Pandangannya sejalan dengan pandangan Hisbullah yang anti Israel, sehingga mendapatkan perhatian dari publik Libanon dan juga badan intelejen Barat.

Serangan bom mobil di tahun 1985 di Beirut yang menewaskan 80 orang banyak diduga sebagai usaha untuk membunuh sang ayatollah.

Serangan itu diduga dilakukan oleh CIA, dengan bantuan badan intelejen kawasan yang bersahabat dengan dinas intelejen Amerika Serikat tersebut.

Di beberapa tahun belakangan, Fadlallah menjauhkan diri dari Hisbullah atas kedekatan kelompok tersebut dengan Iran, namun tetap menjadi pengecam kebijakan Amerika Serikat di TImur Tengan dan juga pengecam Israel.

Dia menyambut baik terpilihnya Barack Obama sebagai presiden Amerika di tahun 2008, namun tahun lalu menyatakan kekecewaannya atas tidak adanya kemajuan di Timur Tengah, dengan menyatakan Obama tidak memiliki rencana perdamaian ke kawasan.

BBC navigation

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.