Terbaru 6 Januari 2010 - 10:43 GMT

"Allah" masih khusus untuk muslim

Praktek agama di Malaysia

Kasus ini menyebabkan ketegangan antar iman di Malaysia

Pengadilan di Malaysia sementara membekukan putusannya yang membolehkan kalangan non Muslim menggunakan kata "Allah" ditengah pengajuan banding yang dilakukan pemerintah setempat.

Kasus ini mengakibatkan ketagangan kalangan Muslim-Kristen di Malaysia.

Hakim Tinggi Lau Bee Lan mengatakan dalam putusannya 31 Desember lalu, putusan yang sudah diambil tidak akan berlaku hingga Pengadilan Banding memutuskan permohonan banding yang diajukan Kementrian Dalam Negeri.

Belum ada tanggal yang ditetapkan untuk sidang banding tersebut.

Jaksa Agung Abdul Gani Patail menyambut pembekuan ini.

"Makin cepat kasus ini diselesaikan makin baik bagi seluruh warga di negeri ini. Sejauh yang saya pahami kasus ini jadi perhatian seisi bangsa,"kata Patail.

Dalam putusannya yang menghebohkan, Hakim Lau membatalkan larangan penggunaan kata ''Allah" selama tiga tahun sebagai terjemahan kata "Tuhan".

Putusan ini dipandang sebagai kemenangan kalangan minoritas yang menganut ajaran Kristiani, Hindu dan agama lain.

Lau menjatuhkan putusan itu setelah mendengar permohonan The Herald, media utama kalangan gereja Katolik Roma di Malaysia, yang menggunakan kata Allah untuk menerjemahkan kata Tuhan dalam bahasa melayu yang dibaca oleh penganut Kristen warga suku di wilayah terpencil negara bagian Sabah dan Sarawak.

Kami ingin bersikap rasional. Kami tidak mau bersikap emosional

Pastor Lawrence Andrew

Pemerintah berpendapat kata Allah, yang berasal dari bahasa arab yang mendahului lahirnya Islam, adalah milik eksklusif kaum Muslim, dan penggunaan kata itu oleh agama lain akan menyesatkan.

Sejumlah pegiat agama Islam mengatakan penggunaan kata itu akan memikat warga Muslim berpindah iman kepada Kristiani.

Kalangan ini menolak argumen bahawa kata "Allah"sudah banyak dipakai oleh kalangan Kristen di negara dengan mayoritas penduduk muslim seperti Suriah, Mesir dan Indonesia dalam kegiatan agamanya.

Muslim di Malaysia merupakan 60 persen dari 28 juta warganya.

Etnis Cina, India dan suku terasing merupakan sisanya.

Kuasa Hukum The Herald tidak menyampaikan keberatan atas putusan Hakim Lau tersebut.

"Kami sepakat demi kepentingan nasional," kata pengacara Derek Fernandez.

Sementara editor The Herald, Pastor Lawrence Andrew, mengatakan: "Kami ingin bersikap rasional. Kami tidak mau bersikap emosional."

BBC navigation

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.