Adik pelaku Bom Bali tolak ISIS

  • 27 Agustus 2014
ali fauzi
Ali Fauzi mengatakan kerinduan akan khilafah Islam menjadi daya tarik ISIS di Indonesia

Penyebaran paham Daulah Islamiyah atau ISIS di Indonesia sudah terjadi sejak dua tahun yang lalu, kata Ali Fauzi. Ia adalah adik Amrozi, Ali Gufron, dan Ali Imran, pelaku Bom Bali 2002.

Pernyataan itu disampaikan Ali Fauzi dalam pemaparan tentang ancaman ISIS yang diadakan di Surabaya, Jawa Timur, seperti dilaporkan wartawan BBC Indonesia Karishma Vaswani.

Ali, yang menyebut dirinya sebagai peneliti terorisme dan bekerja membantu pemerintah dalam upaya deradikalisasi, mengatakan salah satu penyebab paham Daulah Islamiyah populer di Indonesia adalah karena ada kerinduan akan khilafah atau negara Islam.

Ia juga mengatakan bahwa upaya untuk menyebarkan paham Daulah Islamiyah sudah terjadi sejak dua tahun yang lalu dan dilakukan oleh Aman Abdurrahman yang ditangkap karena menggagas kamp terorisme di Aceh.

Menurut Ali, Aman rajin menerjemahkan tulisan-tulisan tentang paham ISIS dan disebarkan melalui pengajian maupun media sosial.

Tidak hanya itu, hasil penelitiannya menemukan bahwa ada keyakinan di kalangan militan tanah air bahwa "perang akhir zaman antara Imam Mahdi dan Dajjal" akan terjadi di Suriah dan membuat banyak anak muda Indonesia memutuskan berangkat ke Suriah.

Tingginya minat untuk bergabung dengan ISIS menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai belum lama ini terkait dengan apa yang ia sebut dengan "penyebaran kebencian".

Hal itu, kata Ansyaad Mbai, dilakukan terpidana terorisme Abubakar Ba'asyir di dalam penjara Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Ba'asyir, menurutnya, telah melakukan ba'iat kepada pengikutnya untuk mendukung Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS yang belakangan berubah menjadi Daulah Islamiyah alias Negara Islam (IS).

isis
Banyak militan yakin "perang akhir zaman" akan terjadi di Suriah

Bekas kombatan

Ali Fauzi mengatakan perhatian dunia saat ini kembali ke Lamongan, Jawa Timur, karena salah satu kombatan ISIS yang tewas saat melakukan aksi bom bunuh diri di Irak adalah pemuda Lamongan bernama Wildan Mukhollad.

BBC Indonesia mewawancarai kakak kandung Wildan Mukhollad yang mengatakan adiknya ke Mesir untuk melanjutkan sekolah menengah pada 2011 dan bergabung dengan ISIS di Suriah sekitar 2012 kemudian ke Irak.

Sebelum melanjutkan sekolah di Mesir, Wildan merupakan santri di Pondok Al Islam di Tenggulun, Lamongan, yang dikelola oleh keluarga Amrozi, terpidana mati bom Bali 2002 .

Ali Fauzi, yang juga alumni Pondok Al Islam, pernah terlibat aktif dalam kegiatan garis keras di Indonesia dan pernah mendapatkan pelatihan militer di sejumlah negara.

"Saya ingin menjelaskan saya adalah bagian dari mereka yang pernah mendapatkan pelatihan militer baik itu di Afghanistan, Thailand Selatan maupun di Moro (Filipina)," kata Ali.

"Saya mendapat pendidikan khusus tentang metode pengeboman, saya belajar tiga tahun tentang bagaiamana cara menangani sebuah bom," tambahnya.

Ali juga mengaku pernah menjadi instruktur materi teknik lapangan untuk kelompok Jamaah Islamiyah cabang Jawa Timur dan sudah mengajarkan ilmu merakit bom kepada ratusan orang pada periode 1998-2000.

"Mereka (terpidana terorisme) yang sekarang ditahan dulu pernah saya ajari (membuat) bom," kata dia.

Berita terkait