Pembatasan BBM timbulkan antrean panjang

  • 25 Agustus 2014
fuel
Antrean di SPBU marak terjadi sejak pemerintah membatasi pasokan BBM.

Langkah pembatasan bahan bakar minyak bersubsidi yang ditempuh Pertamina mulai terasa dampaknya bagi warga awam.

Di kawasan pantai utara Pulau Jawa, pembatasan BBM subsidi menyebabkan antrean sepanjang ratusan meter di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum.

Sebagaimana disaksikan Renaningtyas, seorang ibu yang bepergian dari Jakarta ke Yogyakarta melalui Pantura, antrean panjang terjadi di sejumlah SPBU yang tersebar antara Cirebon hingga Tegal.

“Saya sendiri memerlukan waktu selama 30 menit untuk mengisi bensin di Tegal,” kata Rena.

Hal serupa diutarakan Agus, seorang warga Cirebon. Menurutnya, antrean panjang di SPBU sudah terjadi sejak Jumat (22/08) lalu.

“Hari ini lebih parah. Di SPBU Jalan Tuparev, antrean kendaraan, baik motor maupun mobil, mencapai bahu jalan. Kemudian, SPBU di Tengah Tani, Kabupaten Cirebon, antrean sepeda motor mencapai sekitar 300 meter. Kemudian, ada beberapa SPBU lainnya tutup pada siang hari karena stok premium maupun pertamax mereka telah habis,” kata Agus kepada wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan.

Selain di kawasan Cirebon dan Tegal, kelangkaan BBM terjadi di Jember pada akhir pekan lalu, sebagaimana disaksikan wartawan BBC Indonesia, Sri Lestari.

Konsekuensi

Menurut Vice President Corporate Communication Pertamina, Ali Mundakir, antrean panjang terjadi lantaran kawasan Pantai Utara Pulau Jawa, khususnya Cirebon, merupakan lokasi pertemuan dari berbagai kota.

Ali Mundakir, mengatakan terjadinya antrean dan habisnya BBM subsidi lebih cepat dari biasanya merupakan konsekuensi dari pembatasan volume BBM subsidi oleh pemerintah.

Dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan 2014, kuota BBM subsidi yang sebelumnya 48 juta kiloliter sampai akhir tahun, dipotong menjadi 46 juta kiloliter.

“Pertamina harus mengatur sisa kuota supaya cukup sampai akhir tahun 2014. Konsekuensinya, memang akan terjadi antrean. Jika disalurkan begitu saja sesuai kebutuhan masyarakat, solar subsidi akan habis pada November, sedangkan premium akan habis awal Desember,” kata Ali.

Langkah pembatasan BBM subsidi itu dinilai tidak tepat oleh pengamat energi, Fabby Tumiwa.

Dia berpendapat bahwa langkah tersebut akan menyebabkan inflasi secara tidak langsung.

“Adanya kelangkaan pasti akan menaikkan harga. Saya memprediksi kawasan industri, perkebunan, pertambangan inflasi regionalnya akan naik yang ujungnya akan meningkatkan inflasi nasional.

"Oleh karena itu, dari sudut pandang ekonomi, langkah pembatasan BBM subsidi bukan langkah yang tepat. Namun, bagi pemerintah, khususnya presiden, pembatasan tidak memperburuk citra ketimbang menaikkan harga BBM. Ini bom waktu bagi pemerintahan berikutnya,” ujar Fabby.

Pengendalian bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi telah diatur BPH Migas melalui surat edaran kepada penyalur BBM bersubsidi, yakni PT Pertamina, PT AKR Corporindo Tbk, dan PT Surya Parna Niaga (SPN).

Dalam surat tersebut, BPH Migas meminta waktu penjualan solar bersubsidi di stasiun pengisian bahan bakar umum di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Bali akan dibatasi hanya pukul 08.00 hingga 18.00 mulai Senin (04/08).

Langkah selanjutnya ialah menghentikan penjualan premium di sedikitnya 24 SPBU di pinggir jalan tol. Penyaluran solar bersubsidi akan difokuskan kepada para nelayan dengan bobot kapal kurang dari 30 gross ton.

Berdasarkan data Pertamina, sisa kuota premium subsidi per 18 Agustus 2014 tinggal 10 juta kiloliter, sedangkan solar tersisa 5,5 juta kiloliter.

Berita terkait