Anak-anak muda dihimbau tak gabung ISIS

  • 15 Agustus 2014
ISIS
ISIS banyak merekrut anak-anak muda dari berbagai negara

Kakak Wildan Mukhollad, WNI yang meninggal di Irak saat bergabung dengan ISIS menghimbau pemerintah agar mencegah anak-anak muda berperang bersama kelompok itu.

Wildan Mukhollad menghilang setahun di Suriah dan kemudian dikabarkan meninggal di Irak.

Muhammad In’am , kakak Wildan, mengatakan adiknya ke Mesir untuk melanjutkan sekolah menengah pada 2011, dan bergabung dengan ISIS di Suriah sekitar 2012 kemudian ke Irak.

Pria yang berasal dari Lamongan Jawa Timur ini mengatakan adiknya menghilang dari rumah kakak perempuannya di Mesir pada akhir 2012, dan kemudian diketahui pergi ke Suriah.

Sebelum melanjutkan sekolah di Mesir, Wildan merupakan santri di Pondok Al Islam di Tenggulun, Lamongan, yang dikelola oleh keluarga Amrozi terpidana mati bom Bali 2002 .

In’am mengatakan Wildan bersikeras melanjutkan sekolah di Al Azhar Mesir, meski awalnya tidak diizinkan keluarga.

“Belum lulus (Madrasah) Aliyah, minta ke Mesir, kebetulan dia itu bagus peringkat pertama, kami minta dia selesai dulu di Tenggulun, karena bapak kan sakit parah, tapi keinginan dia ke Mesir itu besar sekali, tak ada tujuan sama sekali ke Suriah atau Irak,” kata dia.

Hilang kontak

Selama berada di Suriah dan Irak, Wildan hanya melakukan kontak searah dengan keluarga di Lamongan Jawa Timur.

"Satu arah saja komunikasinya, jarang sekali, kalau dia menelpon pun setelah itu kita tidak bisa dihubungi lagi, setelah beberapa bulan ada berita lagi kalau dia sudah sampai di Irak," jelas In’am.

Wildan Mukholad
Wildan Mukholad melanjutkan sekolah di Mesir 2011

"Ketika di Irak dia tidak mau pulang, saya garisbawahi dia tidak mau karena kalau pulang dicari intelejen atau apa, dia tidak mau merepotkan keluarga, dia tidak mau bikin repot bangsa Indonesia dan disana kan dia bilang itu medannya (untuk jihad).”

“Keluarga sudah mengikhlaskan dan sekarang jadi teringat lagi (setelah ada pemberitaan media),” kata In’am kepada BBC Indonesia.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Sutarman mengatakan sekitar 56 orang WNI bergabung dengan ISIS, empat orang diantaranya tewas dan salah satunya akibat bom bunuh diri.

Laporan media menyebutkan Wildan yang lahir pada 1995 meninggal ketika melakukan aksi bom bunuh diri.

Muhammad In’am
Muhammad In’am menyebutkan Wildan ke Suriah kemudian ke Irak

In’am mengatakan keluarga mendapat kabar Wildan meninggal pada pertengahan Februari lalu.

“Kami tidak tahu persis tanggalnya, keluarga mendapatkan kabar pada Februari,” kata In’am , “Aparat (polisi) juga datang ke rumah untuk mengkonfirmasi kebenaran kabar tersebut”.

Setelah mendapat kabar, menurut In’am, keluarga menghubungi adik Amrozi, Ali Fauzi – yang juga mantan anggota Jemaah Islamiyah, yang telah berteman sejak kecil, untuk memastikan kabar tersebut kepada jaringan mujahid di Timur Tengah.

Pencegahan

In’am berharap pemerintah dapat mencegah anak-anak muda untuk bergabung dengan ISIS.

“Saya khawatir pada mereka yang mau berangkat tidak memiliki pemahaman Islam yang utuh, saya sendiri tidak sepaham, karena bagi saya Islam itu Rahmatan lil ’alamin, saya harap aparat (pemerintah) bisa duduk bersama, dan memberikan pemahaman tentang gerakan Islam di pondok (pesantren) dan kampus untuk mencegahnya,” kata In’am.

“Saya lebih khawatir jika mereka melakukannya di Indonesia,” tambah In’am.

Daulah Islamiyah alias ISIS banyak merekrut anak-anak muda dari berbagai negara.

AS Irak
Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap militan IS, ke Irak bagian utara

Untuk mencegah penyebarluasan paham Negara Islam di Indonesia, pemerintah mengatakan akan memperketat WNI yang akan pergi ke negara konflik seperti Timur Tengah, Suriah dan Irak.

Selain itu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme BNPT mengatakan kewarganegaraan pendukung ISIS yang pergi ke Suriah atau Irak juga dapat dicabut.

Tetapi, Noor Huda Ismail, dari Yayasan Prasasti Perdamaian, mengatakan pemerintah sebaiknya tidak serta merta mencabut kewarganegaraan orang yang kembali dari Suriah.

Dia mengatakan banyak anak-anak muda yang berada di Suriah, yang memiliki imajinasi tentang jihad, tetapi tak semuanya percaya seratus persen dengan tindakan ISIS.

"Cerita anak-anak itu masih 16 tahun ada yang 18 tahun, mereka pikir kalau bawa senapan itu keren, padahal mereka disana juga repot, kalau orang membuat keputusan belum berusia 20 tahun itu kan mereka tidak fully aware dengan apa yang terjadi, kalau saya jadi pemerintah maka saya akan selamatkan orang-orang di sana, jangan langsung buang paspornya begitu," kata Noor Huda, dalam wawancara dengan BBC Indonesia Kamis (07/08).

Noor Huda yang banyak bergerak di program deradikalisasi mantan terpidana kasus terorisme ini, mengatakan tidak semua orang yang kembali dari wilayah konflik juga berbahaya, dan mereka harus diberikan kesempatan untuk memulai hidup baru.