BBC navigation

Berita soal video Ahmad Dhani di TIME menuai kontroversi

Terbaru  26 Juni 2014 - 18:48 WIB
time, artikel,

Yenni Kwok, penulis artikel di situs Time ini dikritik pedas oleh sejumlah pengguna Twitter.

Sebuah pemberitaan di situs TIME tentang video Ahmad Dhani dengan konstum mirip seragam Nazi menuai kontroversi di sosial media.

Penulis berita, jurnalis asal Indonesia, juga tak lepas dari serbuan kritikan.

"Video Nazi Indonesia ini adalah salah satu kampanye politik terburuk sepanjang masa," begitulah judul berita dalam situs TIME.com berbahasa Inggris yang langsung menuai kontroversi di media sosial.

Judul itu mengacu pada video dukungan Ahmad Dhani kepada salah satu kandidat presiden Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa.

Dalam klip tersebut, Dhani terlihat menggunakan kostum yang mirip dengan Klik seragam komandan elit Nazi, Heinrich Himmler.

Sejumlah orang di Twitter menyatakan keberatan dengan pemberitaan ini.

Salah satunya adalah aktivis dan seniman Ratna Sarumpaet yang menyebut tulisan itu "hanya sukses mengejek Indonesia di mata dunia."

Ratna lewat akun Twitter-nya @RatnaSpaet kemudian juga mengunggah foto penulis TIME, Yenni Kwok, beserta anaknya serta menyinggung soal alamat tinggal dan etnisitasnya.

Yenni kemudian memprotes keras unggahan foto itu, "Hapus atau saya akan melaporkannya," ujarnya dalam akun Twitter.

Dalam pernyataannya kepada BBC Indonesia, Yenni menganggap ini merupakan "suatu pelanggaran etika internet", apalagi dilakukan tanpa izin dan melibatkan anak atau anggota keluarga.

"Berlebihan"

"Foto-foto Facebook saya, termasuk foto profil, semuanya diset ke private (hanya rekan), bukan untuk umum," tulis Yenni untuk BBC Indonesia.

"Kalaupun sebuah foto diset untuk publik, adalah suatu pelanggaran etika Internet bila seseorang memakai foto pribadi orang lain untuk mengidentifikasi orang tersebut tanpa izin, apalagi bila ini juga melibatkan anak kecil atau anggota keluarga," tambahnya.

Menanggapi perseteruan maya ini, Sekjen Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Suwarjono, mengatakan bahwa kicauan Ratna "berlebihan" dan salah alamat.

ratna sarumpaet

Ratna Sarumpaet mengatakan dia tidak bermaksud "menghujat" penulis TIME.

"Tanggung jawab tulisan yang sudah dikeluarkan oleh TIME itu sebetulnya kan sudah diambil alih oleh medianya, (dalam hal ini) TIME-nya," katanya kepada wartawan BBC Indonesia Christine Franciska.

"Kalau Ratna mau protes, jangan ke personalnya, tetapi harusnya ke medianya. Sudah berlebihan kalau kemudian dia menggunakan cara-cara personal untuk menunjukan ketidaksukaan terhadap pemberitaan tersebut."

Pembaca berita, menurut Suwarjono, harus menghormati hak privasi dari penulis.

Dalam konfirmasinya kepada BBC Indonesia, Ratna Sarumpaet mengatakan dia tidak memiliki niat sekalipun untuk menghujat atau menjelekan penulis ketika menulis kicauan di Twitter.

Foto Yenni dan anaknya yang dia unggah disebut hanya sebagai "reaksi spontan" karena Ratna "mengenal" penulis.

"Saya tidak merasa ini masalah karena apa yang saya bicarakan di situ adalah hal biasa, beda kalau saya (memang) berniat menghujat dia."

nazi

Kostum Nazi di video dukungan dari Ahmad Dhani masih menuai kontroversi.

"Orang merasa saya meng-abuse this child karena mereka di otaknya berpikir kalau kicauan saya rasis dan saya menuduh. Ini dulu yang harus diklarifikasi. Kalau saya bilang Yenni orang Tionghoa rasis tidak?"

"Media yang membuat berita tidak boleh berasumsi atau beropini tapi harus jelas siapa nara sumbernya, siapa yang menjadi dasar pemberitaan tersebut,"

Suwarjono

"Tetapi jika semua peristiwa itu membuat Yenni sedih, saya minta maaf. Tetapi kalau aku minta maaf karena itu kesalahan ya enggak. Saya tidak mau mengakui apa yang saya tidak lakukan."

Isi berita

Terlepas dari itu, Ratna sebetulnya mengkritik pemberitaan TIME yang dianggap tidak berdasar.

Pasalnya, berita dengan judul asli This Indonesian Nazi Video Is One of the Worst Pieces of Political Campaigning Ever ini dalam tubuh beritanya tidak menunjukan fakta pendukung dan perbandingan dengan video-video kampanye lain.

"Seharusnya dia (penulis) memberi contoh yang memperkuat pernyataan bahwa itu adalah salah satu video kampanye terburuk," kata Ratna yang mengaku tidak mendukung kubu Prabowo.

"Isinya tidak menceritakan judul," tegasnya.

Yenni enggan berkomentar soal kritik ini kepada BBC Indonesia.

Sementara itu, AJI berpandangan bahwa penilaian personal wartawan pada judul tidak diperbolehkan dalam karya jurnalistik.

"Media yang membuat berita tidak boleh berasumsi atau beropini tapi harus jelas siapa nara sumbernya, siapa yang menjadi dasar pemberitaan tersebut," kata Suwarjono.

"Saya pikir teman-teman jurnalis apalagi sekelas TIME, saya kira sudah tahu betul standarnya, kemudian mana yang layak tayang mana yang tidak."

"Faktanya ada tapi judul berlebihan tidak boleh. Tidak boleh juga judul dan badan berita enggak nyambung atau berbeda. Di jurnalistik pun tidak boleh membuat berita berdasarkan opini. Kalau kita mengikuti standar di Indonesia seperti itu."


Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.