BBC navigation

Menjelang penutupan lokalisasi Gang Dolly

Terbaru  17 Juni 2014 - 09:28 WIB
Gang Dolly

Pemkot Surabaya akan menutup Gang Dolly pada Rabu (18/06)

Suara adzan terdengar dari sebuah masjid yang terletak di dekat Gang Dolly, lokalisasi yang terletak di Surabaya.

Sementara itu, dari jendela rumah-rumah di sepanjang Gang Dolly dan jarak, tampak sejumlah PSK duduk di sofa yang terletak di sebuah ruangan.

Di antara deretan rumah-rumah yang menjadi tempat prostitusi, tampak seorang anak usia balita tengah duduk di teras sebuah rumah bersama orangtuanya.

Lokalisasi Gang Dolly dan Jarak, terletak di permukiman penduduk, yang berkembang sejak 1960an.

Memberikan perlindungan terhadap anak-anak dari dampak kegiatan prostitusi merupakan salah satu alasan, yang disebut Pemerintah Kota Surabaya, untuk menutup lokalisasi pada 18 Juni mendatang, selain pencegahan penyebaran HIV/Aids.

Pemerintah Kota Surabaya menyediakan dana kompensasi Rp5 juta bagi 1.400 PSK di Gang Dolly dan Jarak, dan mengaku telah memberikan pelatihan keterampilan bagi mereka agar dapat beralih profesi.

Selain itu, Pemkot juga meminta warga untuk tidak menggunakan rumah mereka sebagai tempat prostitusi.

Prostitusi di Indonesia tidak memiliki legalitas, tetapi upaya penutupan lokalisasi terbesar di Asia Tenggara ini selalu mendapatkan perlawanan dari warga.

Gang Dolly

Ada 1.400 orang PSK yang bekerja di Gang Dolly

Mata pencarian

Anissa dari komunitas warga yang tergabung dalam KOPI (Komunitas Pemuda Independen) mengatakan penutupan lokalisasi akan mematikan roda ekonomi di kawasan tersebut.

Menurut survei yang dilakukan oleh KOPI, lebih dari 14.000 orang ‘menggantungkan hidup’ pada lokalisasi di Gang Dolly dan Jarak, antara lain para kecil yang tampak menjajakan dagangan mereka kepada PSK dan pengunjung lokalisasi.

"Sepertiga dari belasan ribu itu merupakan anak-anak sekolah yang orangtuanya bekerja ataupun mendapatkan uang dari lokalisasi, bukan hanya PSK, tetapi juga tukang cuci, penjahit, pedagang yang ada disini," jelas Anissa.

Pemerintah kota, menurut Anissa, tidak pernah mengajak dialog warga dan PSK di lokalisasi sebelum merencanakan penutupan.

Lis, 38 tahun, telah bekerja sebagai PSK selama 12 tahun, memiliki dua anak yang masih bersekolah di SMA dan SMP.

“Saya hanya lulusan SD dan harus membiayai sekolah anak-anak dan keluarga di kampung, kalau tak bekerja disini, dengan apa saya membiayai mereka,” kata dia.

gang dolly

Salah satu rumah bordil yang berada di Gang Dolly


Lis mengaku mendapatkan penghasilan sekitar RP. 3 juta – RP 10 juta dalam satu bulan. Dalam semalam, dia melayani tiga sampai 10 pengunjung dengan bayaran RP125.000 per orang, tetapi dia hanya mendapatkan Rp. 55 ribu, sisanya untuk mucikari.

Malam semakin larut di Dolly, sejumlah warga tampak berkumpul membahas rencana penutupan, bendera setengah tiang pun dikibarkan di rumah-rumah yang terletak di gang sempit tersebut.

Rencana penutupan lokalisasi, tampak akan terus mendapatkan protes dari warga dan PSK.

Bagi aktivis Aids/HIV, penutupan lokalisasi Gang Dolly sebaiknya dibarengi dengan perubahan pola pencegahan penyebaran HIV/AIDS.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.