Partisipasi warga miskin dalam pemilu 'minim'

  • 31 Maret 2014
Pengerahan massa
Pengerahan massa untuk meramaikan kampanye terbuka masih dilakukan oleh parpol.

Empat kaus baru berbeda corak dan warna berada di tangan Jemris selama kampanye terbuka dua pekan terakhir menjelang pemilihan umum pada 9 April.

Warga Kupang, Nusa Tenggara Timur ini, mendapat kaus dengan warna dominan merah, kuning dan biru secara cuma-cuma. Di samping kaus, ia juga mengaku mendapat uang transportasi Rp50.000 dan nasi kotak.

Tetapi semuanya itu tidak sepenuhnya 'cuma-cuma' karena ia digiring untuk menghadiri kampanye terbuka partai politik yang menghadiahkan kaus, nasi kotak dan sumbangan transportasi.

"Kalau panitia mengajak saya ke kampanye, saya datang. Lumayan untuk beli rokok," tuturnya.

Akan tetapi kampanye yang ia datangi tidak harus yang menjadi pilihan politiknya.

Menurut Jemris, imbalan materi itulah yang membuatnya menuruti ajakan menghadiri kampanye.

Primordialisme

Apa yang dilakukan Jemris, kata peneliti sosial dan kemiskinan dari Lembaga Pemberdayaan Sosial dan Demokrasi, Musni Umar, menunjukkan bahwa partisipasi warga miskin dalam pemilihan umum biasanya sebatas sebagai komoditas.

"Mereka melakukan itu karena dimobilisasi dan mengharapkan uang. Inilah politik orang miskin. Mereka menjadikan demokrasi itu sebagai sarana, alat untuk mendapatkan uang," jelas Musni Umar.

Momentum ini diisi oleh para polikus untuk mendapat dukungan dari warga miskin di saat pemilihan.

"Tetapi orang-orang miskin juga semakin pintar. Siapa yang memberi uang paling besar maka itulah yang mereka akan pilih," tambahnya.

Namun ia juga mengingatkan bahwa besaran pemberian materi tidak sepenuhnya bisa dijadikan jaminan dukungan, sebab faktor primordialisme masih memegang peran penting di kalangan masyarakat miskin.

Sementara itu Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI, Setya Novanto, yang berkampanye di daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur mengatakan kampanye terbuka dengan pengerahan massa sudah ketinggalan zaman.

"Kampanye terbuka tidak efektif dan harus mengeluarkan biaya untuk transportasi dan konsumsi. Di samping itu yang datang tidak terseleksi, belum tentu pemilih kita," ujarnya.