BBC navigation

Penyiksaan TKW, BNP2TKI ajukan tuntutan

Terbaru  14 Januari 2014 - 17:29 WIB
TKW Hong Kong

Dalam berbagai kasus, agen tenaga kerja serta aparat dianggap berpangku tangan.

Pemerintah Indonesia akan mengajukan tuntutan kepada seorang majikan di Hong Kong atas dugaan penyiksaan tenaga kerja wanita asal Indonesia, Erwiana Sulistyaningsih.

Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Jumhur Hidayat, dalam siaran pernyataan persnya yang dikirim kepada BBC mengatakan pihaknya telah mengirimkan surat pemberitahuan tuntutan ke Konsulat Jenderal RI di Hong Kong.

Merespon hal tersebut, KJRI Hong Kong telah melaporkan pula bahwa kepolisian setempat telah mendatangi dan memeriksa majikan tersebut.

"Saat ini BNP2TKI sedang menunggu laporan medis berupa visum atas adanya kekerasan yang dialami, juga mengkonfirmasi hak-hak lain yang harus diterima seperti asuransi dan juga gajinya selama di Hong Kong," tulis Jumhur.

Tenaga kerja asal Indonesia itu dipulangkan dalam kondisi kritis karena diduga dipukul dan dianaya oleh majikannya selama delapan bulan bekerja di Hong Kong.

Erwiana Sulistyaningsih kini di rawat di Rumah Sakit Amal Sehat di Sragen, Jawa Tengah, demikian kata Asosiasi Pekerja Migran Indonesia seperti ditulis South China Morning Post.

Enggan menyelidiki

Sebelumnya diberitakan, Kepolisian Hong Kong menolak untuk menindak lanjuti penyelidikan kasus ini karena kurangnya bukti yang dapat mengkonfirmasi dari mana luka-luka itu didapat.

Pernyataan ini menuai kecaman dari sejumlah pihak. Fernando Cheung Chiu-hung dari Partai Buruh Hong Kong mengatakan: "Jika seseorang dibunuh dan tidak ada yang melaporkan kasusnya, saya rasa tidak mungkin polisi menunggu seseorang untuk melaporkan bukti sebelum memulai penyelidikan."

Erwiana tiba di Hong Kong pada 13 Mei 2013 untuk bekerja pada Tseung Kwan O. Dia pulang ke Indonesia pada 10 Januari dengan dipapah sesama TKW, berjalan menyusuri bandara karena luka berat yang dideritanya.

Ketika itu, majikannya memberi uang sejumlah HK$100 dan sebuah kaos serta meminta Erwiana untuk tidak berbicara ke sesama warga Indonesia sebelum pesawat lepas landas, kata Sringatin dari Asosiasi Pekerja Migran Indonesia.

Kantor Berita AFP menulis pasangan majikan setempat September lalu juga dijatuhi hukuman penjara karena menyiksa pembantu asal Indonesia, termasuk dengan menyetrika dan memukul dengan rantai sepeda.

Lembaga Ham Amnesty International dalam laporan bulan November menulis bahwa saat ini terdapat ribuan TKW yang hidup dalam kondisi 'mirip budak' di rumah-rumah majikan mereka di Hong Kong.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.