Lumpur Sidoarjo sampai akhir dekade

  • 14 Desember 2013
Lumpur Sidoarjo
Sebelumnya para ahli menyebut luapan lumpur Sidoarjo akan berhenti dalam 25 tahun.

Para ahli mengatakan luapan lumpur di Sidoarjo di Indonesia akan berakhir pada akhir dekade ini, lebih cepat dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Kajian ini dilakukan berdasarkan pada catatan data satelit yang menunjukkan kondisi tanah yang berubah dalam merespon material yang muncul ke permukaan.

Para peneliti mengatakan luapan lumpur kehilangan tekanan dengan cepat.

Erupsi yang dimulai di wilayah Porong Jawa Timur pada 2006 lalu merupakan yang terbesar dari kejadian yang sejenis.

Lumpur, yang berbahaya telah menyebabkan ribuan orang mengungsi dan menyebakan kerugian ekonomi mencapai US$4 milliar atau Rp47,9 trilliun.

Awalnya, lebih dari 100.000 ton lumpur muncul ke permukaan. Luapan lumpur semakin menurun hingga sepuluh kali lipat, dan sebuah analisis berdasarkan pada penelitian satelit Jepang pada permukaan tanah memperkirakan penurunan sebanyak sepuluh kali lipat dapat terjadi pada beberapa tahun mendatang.

"Pada 2017, luapan akan melemah," kata Profesor Michael Manga dari Universitas California di Berkeley, US.

Menurun

"Angka yang pasti, 1.000 ton per hari - lumpur sebanyak ribuan truk bak terbuka per hari. Jumlahnya terlalu sedikit untuk bisa menimbulkan bahaya, (tetapi) mungkin masih menarik untuk menjadi tempat tujuan wisata," kata dia kepada BBC News.

"Saya mengharapkan (kemudian) bahwa jika erupsi turun pada angka tertentu, akan tersumbat sendiri dan berhenti meletus."

Perkiraan sebelumnya memperkirakan lumpur Sidoarjo akan terus meluap sampai 25 tahun atau lebih.

Prof Manga berbicara di San Francisco pada pertemuan dunia para pakar Bumi terbesar, American Geophysical Union (AGU).

Dia dan rekannya menggunakan teknik yang dikenal sebagai interferometric synthetic aperture radar (InSAR) untuk mengakses evolusi dari erupsi lumpur Sidoarjo.

Penelitian ini dilakukan dengan menggabungkan sejumlah gambar citra satelit gunung berapi dari luar angkasa yang diambil oleh satelit ALOS Jepang, untuk memastikan perubahan permukaan di sekitar gunung berapi.

Selama beberapa tahun, permukaan tanah turun sepuluh sentimeter akibat dorongan material dari perut bumi yang keluar ke permukaan tanah. Bagaimanapun, luapan terus menunjukkan penurunan.

Berita terkait