Presiden minta rekonsiliasi Sampang harus tepat

  • 4 Desember 2013
Pengungsi Syiah
Ratusan pengungsi Syiah masih berada di rusun Sidoardjo Jawa Timur

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta agar upaya rekonsiliasi penganut Syiah dan warga di Sampang dapat diterima semua pihak, seperti disampaikan oleh juru bicara presiden Julian Pasha.

Pertemuan presiden dengan Tim Rekonsiliasi Syiah yang diketuai oleh Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Abd A'la, di Kabupaten Sampang Rabu (4/12) membahas tentang perkembangan upaya rekonsiliasi yang masih mendapatkan kendala yaitu mengenai adanya permintaan agar penganut Syiah meninggalkan ajarannya jika ingin kembali ke kampung mereka.

"Terlepas dari amanat UU tadi ada yang hal-hal yang tidak bisa diterima oleh masyarakat setempat, itu yang perlu kita carikan suatu jalan keluar yang baik yang benar-benar bermartabat yang bisa diterima bukan saja oleh kedua pihak yang berbeda pandangan tetapi masyarakat di luar mereka," jelas Julian kepada wartawan BBC Indonesia, Sri Lestari.

Julian mengatakan sejumlah pilihan penyelesaian kasus tersebut akan terus dibahas dan diharapkan ada solusi yang permanen dan dapat diterima semua pihak.

Dia menambahkan presiden juga tidak memberikan batas waktu kepada tim, tetapi diharapkan dapat selesai sebelum masa jabatannya berakhir setelah pemilu tahun depan.

Julian mengatakan presiden meminta agar tim rekonsiliasi lebih pro aktif untuk melakukan pendekatan kepada tokoh-tokoh agama setempat.

Syarat

Sementara itu, anggota Badan Silaturahmi Ulama dan Pondok Pesantren Se-Madura Bassra, Syafiudin Wahid mengatakan syarat kepada pengungsi Syiah untuk meninggalkan ajarannya merupakan permintaan dari masyarakat dan ulama setempat.

"Bisa menerima sebetulnya, tetapi dari masyarakat sana setelah kita bertemu dengan masyarakat dan tokoh-tokoh agama dari desa itu bisa menerima, tetapi mohon kembali ke ajaran semula, direhabilitasi dulu akidahnya begitu," jelas Syafiudin.

Hertasning Ichlas juru bicara tim advokasi kasus Sampang mengatakan proses rekonsiliasi Syiah Sampang masih terhambat adanya syarat kepada pengungsi Syiah untuk meninggalkan keyakinannya jika ingin kembali ke kampung mereka.

“Islah, perdamaian itu sudah terjadi, piagam perdamaian sudah diteken, lalu yang kedua ada tandatangan dibawah situ, ada kunjungan dari warga di kampung ke rusun tempat pengungsian, yang terakhir ada problem pada penyelesaian rekonsiliasi yang dipimpin oleh menteri agama itu yang salah lihat. Meski tidak sevulgar dulu, mereka mengatakan cara terbaik adalah pertobatan,” tambah Hertasning.

Sekitar 200 orang warga Syiah Sampang masing menghuni rumah susun di Sidoarjo, Jawa Timur, setelah beberapa bulan sebelumnya tinggal di GOR Sampang. Upaya rekonsiliasi sudah dilakukan sejak Juli lalu, tetapi belum membuahkan hasil.

Berita terkait