Pelaku penembakan polisi 'sulit ditangkap'

  • 11 September 2013
Aparat bertugas
Beberapa tahun terakhir aparat yang sedang bertugas menjadi sasarang serangan.

Meski sudah terjadi puluhan kali, sebagian aksi penembakan terhadap aparat hingga kini belum terungkap tuntas diduga karena pelaku bukan tidak terkait jaringan lama terorisme di Indonesia.

Dalam aksi penembak polisi sejak awal tahun ini sudah enam polisi jadi korban dalam setidaknya lima kasus.

Termasuk diantaranya yang terjadi Rabu (10/09) malam di Jalan HR Rasuna Said dan menimpa Brigadir Kepala Sukardi.

Anggota Komisi kepolisian Nasional Adrianus Meliala menyatakan tidak sulit menemukan pembenci aparat yang merasa terganggu oleh polisi.

"Tetapi yang benar-benar mau menyerang polisi seperti itu sangat jarang ya, bisa dihitung dengan jari," kata Adrianus kepada Dewi Safitri dari BBC Indonesia.

Polisi beberapa kali mengumumkan penangkapan pelaku atau pembantu aksi serangan, namun tetap saja serangan demi serangan tak dapat dicegah dan aparat jadi korban.

Polisi juga sudah sempat mengumumkan identitas tersangka pelaku salah satu serangan, meski belum ditangkap.

'Tak berlaku'

Upaya memburu pelaku juga sudah dilakukan dengan berbagai cara namun kemudian kesulitan menurut kriminolog Adrianus Meliala terletak pada minimnya data terkait jaringan pelaku.

Data yang selalu diandalkan untuk membaca jaringan teros selama ini, kata Adrianus, dimiliki oleh Detasemen Khusus 88 Anti Teror dibawah Mabes Polri.

"Densus itu kenapa unggul dibanding intelejen TNI misalnya, itu karena dia sudah membangun data base jaringan terorisme yang sangat masif dalam 10 tahun terakhir."

Tetap saja sejauh ini aparat belum mengendus pelaku penembakan yang seolah terus-menerus menyasar personil aparat terutama yang sedang berseragam.

Adrianus menduga pelaku telah mengubah pola kerja dari terorisme berjaringan menjadi aksi individual yang sulit dicari kaitannya dengan kelompok terdahulu.

"Sekarang masuk pada situasi yang kita sebut self radicalization, menjadi radikal dengan sendirinya entah dengan bantuan bacaan, internet, pengajian," kata Guru Besar Ilmu Kriminal UI ini.

"Basis dia anaknya siapa, bapaknya siapa hubungannya apa, sudah tidak berlaku lagi."

Menurut Adrianus sepak terjang pelaku individual ini sudah terbukti dalam beberapa kasus yang hingga kini belum dikuak Densus.

"Bisa jadi puluhan (kasus) kalau kita hitung dengan apa yag terjadi di Papua, Poso, Solo, Jogja, Cirebon, Tasikmalaya."