BBC navigation

Berharap kehidupan yang lebih baik di Australia

Terbaru  9 September 2013 - 21:48 WIB
pencari suaka rumah detensi

Para penghuni tahanan rumah detensi imigrasi termasuk anak-anak.

Setiap tahun ribuan pencari suaka meninggalkan Afghanistan, Sri Lanka, Irak, dan Iran untuk menempuh perjalanan berbahaya dan ilegal menyeberangi lautan menuju Australia.

Mereka membayar ribuan dollar kepada penyelundup manusia. Banyak yang gagal dan berakhir di rumah detensi atau negara "transit" seperti Indonesia, di mana mereka menunggu nasib diputuskan.

Pada 23 Juli, sebuah kapal kayu yang membawa Klik pencari suaka ke Australia tenggelam sekitar 10 km di lepas pantai Jawa.

Sebanyak 20 orang tewas, termasuk enam anak. Lebih dari 200 orang lainnya diselamatkan dari laut, lelah, ketakutan dan terguncang.

Klik Fariba (bukan nama asli), 27, adalah salah seorang penumpang yang selamat.

Seperti banyak orang di kapal itu, ia berasal dari Iran. Ia adalah keturunan Arab, dari Provinsi Khuzestan, dan mengatakan komunitasnya menjadi sasaran diskriminasi anti-Arab di Iran.

Ia tidak ingin diidentifikasi karena ia khawatir dengan aksi balasan yang akan dihadapinya jika ia kembali ke negara asalnya.

"Saya telah kehilangan segalanya," kata dia. "Saya kehilangan paspor saya, uang saya, saya kehilangan segalanya di laut."

Ia terbang ke Indonesia karena ia diberitahu bahwa di Iran tidak ada tempat yang lebih baik lagi untuk menemukan kapal ke Australia.

"Di bandara Indonesia, seseorang mengatakan kepada saya jika Anda ingin pergi ke Australia, saya akan membantu Anda ke sana," kata Fariba.

Ia membayar $17.000 (Rp170 juta) kepada seorang penyelundup manusia di Indonesia untuk ongkos kapal keluarganya.

Saling menyalahkan

Ida Bagus Imigrasi

Kepala penyidikan dan penindakan Imigrasi, Ida Bagus, berbicara kepada BBC

Aktivis dan pencari suaka mengatakan bahwa pejabat Indonesia yang korup bertugas sebagai agen penyelundup manusia dan mengantongi uang dari para pencari suaka.

Pemerintah membantah tuduhan tersebut.

Kepala Penyidikan dan Penindakan Imigrasi Ida Bagus Adnyana mengatakan kepada BBC bahwa pejabat Indonesia tidak bisa disalahkan.

"Saya tidak menyangkal kemungkinan ada kelompok-kelompok tertentu di Indonesia yang memfasilitasi penyelundup manusia ini, orang-orang seperti nelayan yang bisa dibayar atau dirayu oleh penyelundup manusia untuk menggunakan kapal mereka," kata Ida Bagus.

"Tapi tidak ada bukti bahwa ada orang dari Imigrasi Indonesia yang terlibat dalam operasi ini."

"Sebaliknya, para petugas kami di lapangan sangat luar biasa dalam upaya menolong para pencari suaka yang terkena musibah, meski kami tak punya tanggung jawab legal untuk melakukan itu," katanya.

Indonesia belum menandatangani Konvensi PBB tentang Pencari Suaka.

Kritikus mengatakan bahwa hal ini memungkinkan Indonesia mencuci tangan dari masalah ini.

Tetapi pemerintah mengatakan telah berbuat lebih dengan menampung para pencari suaka di rumah detensi sambil menunggu keputusan UNHCR.

Melarikan diri

kapal pencari suaka

Banyak kapal yang membawa pencari suaka tidak sampai ke Australia.

BBC mendapat akses eksklusif ke rumah detensi di Jakarta.

Di tempat ini puluhan pria dan wanita memiliki cerita yang sama dengan Fariba.

Para penghuni rumah detensi, termasuk anak-anak, menghuni ruangan berjeruji. Seorang anak menangis dan ibunya berusaha membujuknya agar diam.

Sang ibu mengatakan kepada wartawan BBC, Karishma Vaswani, bahwa ia telah berada di sana selama satu bulan tanpa kejelasan kapan akan dibebaskan atau diproses.

Seorang perempuan lain, dari Sri Lanka, yang sedang hamil mengatakan ia tiba di rumah detensi saat sedang mengandung dua bulan. Ia kini berada di trimester kedua kehamilannya dan beberapa minggu lagi akan melahirkan

Proses untuk menentukan apakah anda pencari suaka atau bukan tidak bisa ditebak.

Tetapi ditanya apakah mereka akan tetap menempuh perjalanan berbahaya itu, mereka semua mengatakan ya.

peta jakarta australia

Banyak yang melarikan diri karena terancam perlakuan diskriminatif di negara asal dan mengatakan Klik mengambil risiko demi kehidupan yang lebih baik untuk keluarga mereka layak dilakukan.

Ali (bukan nama asli) berasal dari etnis Hazara di Afghanistan.

"Australia berpikir bahwa kami memilih menjadi pencari suaka," kata dia.

"Kami tidak memilih kehidupan ini. Keluarga kami berada dalam bahaya. Jika Anda berada di posisi kami, maka Anda akan melakukan hal yang sama."

Ditanya apakah ia tahu Klik kebijakan baru Australia, bahwa jika kapalnya tiba di Australia, orang-orang yang berada di kapal akan tetap dikirim ke Papua Nugini untuk diproses dan hal itu akan memakan waktu bertahun-tahun, Ali hanya mengangkat bahu.

"Saya sudah berada di sini selama satu tahun. Terkadang kami merasa bahwa kami dilupakan. Saya mungkin akan tetap berada di sana hingga tiga sampai empat tahun mendatang. Tapi saya tidak punya pilihan.

"Jika saya harus melakukan hal ini lagi, ya saya akan tetap naik kapal ke Australia."

Rasa frustrasi dan putus asadi rumah detensi ini sangat terasa.

Semua orang ingin menceritakan kisah mereka, meski mereka takut hal itu bisa mengancam upaya mereka mendapat status pencari suaka.

Tidak ada seorang pun dari mereka yang tahu kapan atau akankah mereka mendapat status pencari suaka itu, langkah pertama menuju kehidupan yang lebih baik di Australia.

Sampai saat itu tiba, satu-satunya kepastian yang mereka dapat adalah masa depan yang tidak jelas.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.