BBC navigation

Importir 'ketar-ketir' lihat rupiah

Terbaru  22 Agustus 2013 - 14:05 WIB
Industri tekstil

Industri tekstil sangat tergantung pada bahan baku impor untuk produksinya.

Pengusaha anggota Gabungan Importir nasional Seluruh Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan nilai rupiah yang masih terus melemah meski berbagai cara nampaknya sudah dicoba pemerintah dan Bank Sentral untuk menstabilkannya.

Rupiah pada perdagangan siang ditutup pada kurs tengah Rp10.795, angka yang menurut GINSI 'melorot lebih dari seribu rupiah" dalam tempo hanya dua pekan sebelum periode libur panjang hari Raya.

"Kita sekarang sangat berat ini, mau impor bahan baku harus benar-benar teliti kalkulasinya," kata Achmad Ridwan dari GINSI kepada wartawan BBC Indonesia, Dewi Safitri.

"Kita nyaman dengan nilai rupiah setinggu Rp9.500-an, kalau sekarang sudah setinggi ini yah sudah melebihi ketar-ketir namanya," tukas Ridwan.

Dalam catatan yang diumumkan Badan Pusat Statistik awal tahun lalu, angka impor Indonesia melonjak hingga 12% dibanding periode setahun sebelumnya, sementara ekspor justru turun enam persen.

Naiknya harga dolar dan turunnya rupiah dikhawatirkan akan membuat ketidakseimbangan ini menjadi jurang defisit perdagangan yang makin lebar.

"Karena banyak sekali komponen impor itu yang jadi bahan baku, baik utama maupun pendamping, untuk produk ekspor," tambah Ridwan.

Meski demikian ia mengatakan masih sangat berharap pada paket regulasi yang dijanjikan pemerintah akan diumumkan Jumat (23/08) besok.

'Dampak ke meja makan'

Impor untuk bahan baku produk domestik maupun dalam negeri sangat besar, yang selama Januari-Oktober tahun lalu tercatat naik 7,4% untuk golongan bahan baku/penolong dan untuk barang modal sebesar 21,87%.

"Ingat, kita makan tiap hari tahu dan tempe saja barangnya harus diimpor lho, itu dampak sampai meja makan."

Achmad Ridwan

Sementara impor untuk barang konsumsi bahkan mengalami penurunan 1,33 persen.

"Masalahnya, pengusaha tak bisa dengan begitu saja mengalihkan bahan bakunya ke produk lokal, ya kalau ada subsitusinya. Kalau tidak ada bagaimana?" tabah Ridwan.

Ia juga membantah teori yang menyebut pengusaha ekspor diuntungkan dengan pelemahan rupiah ini karena akan mendapat keuntungan balik lebih dari nilai dolar yang meroket.

Menurut pegiat asosiasi yang diklaimnya beranggota sekitar 2.000 pengusaha impor itu, modal yang dipakai untuk mengimpor bahan baku belum tentu kembali setara dengan keuntungan dari nilai ekspornya.

"Karena selain bahan baku, semua aspek produksi sampai ke luar negeri dihitung dengan dolar: ongkos pelabuhan, transportasi di negara tujuan, kalau bisa untung bagus tapi tidak selalu."

Ridwan juga mengingatkan tak hanya pengusaha dan importir yang punya ketergantungan besar pada impor dan nilai rupiah yang stabil.

"Ingat, kita makan tiap hari tahu dan tempe saja barangnya harus diimpor lho, itu dampak sampai meja makan."

Selain untuk bahan makanan, nilai impor bahan baku yang besar banyak dipakai untuk industri tekstil, pakan ternak dan mesin industri.

Pengamat menilai tanpa kebijakan yang tepat, gejolak di pasar keuangan ini Klik akan berpengaruh terhadap target pertumbuhan ekonomi nasional.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.