Ketika sel penjara seperti kamar kost

  • 9 Juli 2013
tahanan

iPod, iPad, ponsel, laptop hingga kartu SIM telepon hanya beberapa dari sekian banyak obyek yang dilihat oleh wartawan televisi Najwa Shihab saat ikut dengan Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Denny Indrayana dalam inspeksi mendadak ke Lapas Sukamiskin di Bandung dan Cipinang di Jakarta pada 18 Mei lalu.

Sidak itu dipicu oleh pernyataan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad Mei silam bahwa “banyak napi koruptor yang bebas keluar penjara dan bahkan bisa jalan-jalan ke mal.”

“Pernyataan itu membakar telinga Wamen Hukum dan HAM Denny Indrayana yang membantahnya dan sempat terjadi polemik,” kata Najwa pada Pinta Karana dari BBCIndonesia melalui sambungan telepon dariLondon.

Saat mendengar bahwa Denny akan melakukan sidak, Najwa mengajukan permohonan untuk ikut dan permohonan itu disetujui.

sukamiskin
Lapas Sukamiskin menampung napi kasus korupsi

Tempat pertama yang mereka datangi adalah Lapas Sukamiskin di Bandung yang menampung 469 tahanan, termasuk para narapidana kasus korupsi.

Potensi pelanggaran yang bisa terjadi di lapas tempat berkumpulnya napi-napi berduit disadari oleh Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin.

“Sanksi berat akan dijatuhkan pada petugas yang melanggar peraturan,” kata Amir pada BBC.

Namun, ancaman sang menteri tampaknya belum cukup. Najwa mengatakan bahwa hal pertama yang menarik perhatiannya adalah sel yang bisa dikunci dari dalam.

“Buat saya itu striking sekali, bahwa napi bisa mengunci sel mereka dari dalam. Padahal kan bedanya hotel dan sel penjara adalah di penjara seharusnya penghuni tidak bisa mengunci dari dalam, jadi hal itu aneh buat saya,” kata Najwa.

Keanehan lain yang dilihatnya adalah lubang intip di pintu. “Tahanan bisa mengintip dari dalam melalui lubang itu padahalkanseharusnya sebaliknya,” tambahnya.

Kemewahan sel tahanan

Kesan awam tentang sel penjara adalah sempit, kecil dan panas. Namun hal itu tidak berlaku di Sukamiskin dimana setiap sel hanya memiliki satu penghuni. Setiap sel juga dilengkapi dengan kamar mandi.

Tidak hanya itu, para penghuni diberi kebebasan untuk menghias kamar sel mereka sehingga tampak "seperti kamar kost," kata Najwa.

“Sel pertama yang saya masuki adalah sel Gayus Tambunan. Hal pertama yang saya lihat di dinding adalah foto-foto keluarga dan baju tennis. Ia punya single bed dengan seprai batik warna warni yang cukup nyaman. Saya tahu karena saya bertanya apakah saya boleh duduk di kasurnya dan ia mengizinkan,” kata Najwa.

Kejutan lain yang dilihatnya adalah saat ia masuk ke sel Adrian Waworuntu yang divonis seumur hidup atas perannya dalam kasus pembobolan bank sebesar Rp1,2 triliun pada 2005.

“Kami harus mengetuk pintu beberapa kali dan di dalam, saya melihat iPod dan DVD player dengan beberapa DVD bajakan, ada juga iPad dan charger laptop. Dia bilang laptopnya ada sama sipir tapi saya menduga laptopnya ada di dalam,” kata dia.

Saat ia melihat foto Adrian dengan seorang perempuan muda dan bayi, Najwa mengira mereka adalah anak dan cucunya.

“Tapi ia bilang bayi itu adalah anaknya yang paling kecil, dan saya Tanya kapan ia punya waktu untuk kumpul dengan istri kan anda sudah bertahun-tahun di penjara, saya tahu conjugal visit tidak diatur dalam hukum di Indonesia, Adrian bilang ‘kalau mau ketemu bisalah diatur.’”

Penjara di pulau

Najwa mengatakan bahwa hal yang paling membuatnya terperanjat adalah ketika ia masuk ke sel yang ditempati mantan gubernur Bengkulu Agusrin Najamudin yang divonis empat tahun penjara pada 2012 karena kasus korupsi Rp20 miliar.

“Selnya dua kali lebih besar dari yang lain, seperti dua sel dijadikan satu. Agusrin mengklaim ia tidak membayar sedikit pun untuk sel itu dan kalau sel itu tidak dibobok khusus untuk dia. Dia bilang dia hanya beruntung saja bisa mendapatkan sel sebesar itu,” kata Najwa.

Di dalam sel tersebut, ia melihat ada mesin pembuat jus, satu kardus penuh buah segar dan puluhan kartu SIM telepon.

“Dia sih bilangnya SIM itu dia gunakan kalau dia telepon pakai telepon tamu tapi saya duga itu untuk dibagi-bagi saja,” tambahnya.

Di tembok juga tergantung sebuah papan berisi jumlah perhitungan perolehan suara pemilihan kepala daerah.

Selain piranti genggam canggih yang menjadi pembicaraan, isu mengenai suap di penjara juga bisa memiliki konsekwensi pada keamanan publik.

Tahun lalu, Badri, seorang napi pelaku pembunuhan pada tiga murid SMA di Poso dan tersangka terorisme melarikan diri saat ia mendapat izin mengunjungi istrinya yang sakit.

Ia lolos dari kawalan petugas dan hingga kini masih buron.

Neta S Pane dari Indonesia Police Watch mengatakan sebenarnya ada banyak cara bagi pemerintah untuk menghentikan gratifikasi di penjara.

“Kami sudah berkali-kali bilang pada pemerintah untuk mengurung napi korupsi di pulau yang jauh dari pulau Jawa, seperti pulau Buru. Jangan di Nusa Kambangan karena terlalu gampang aksesnya,” kata Neta.

Neta mengakui permasalahan di penjara memang berat untuk diatasi karena berbagai faktor seperti kapasitas penjara yang tidak sebanding dengan jumlah napi.

“Sulit tetapi bukan tidak mungkin. Tergantung pada niat dan komitmen pemerintah untuk membuat perubahan yang drastis dan mungkin menyakitkan tetapi bermanfaat untuk di jangka panjang,” kata Neta.

Berita terkait