BBC navigation

Harga BBM mendorong inflasi Juni

Terbaru  1 Juli 2013 - 19:56 WIB
Rupiah

Harga bahan pangan seperti sayur-sayuran di sejumlah pasar telah naik dan terus merangkak.

Ramalan inflasi akibat kenaikan harga BBM dibenarkan oleh laporan terbaru Badan Pusat Statistik, BPS yang menyebut angka inflasi naik menjadi 1,03% bulan Juni lalu.

Angka inflasi pasca kenaikan harga BBM kemungkinan akan terus merangkak naik jika pemerintah tidak bisa mengendalikan harga bahan pangan dan tarif transportasi, dua penyumbang utama angka inflasi nasional.

Harga bahan pangan seperti sayur-sayuran di sejumlah pasar telah naik dan terus merangkak setelah kepastian pencabutan sebagian subsidi harga BBM disampaikan oleh pemerintah beberapa waktu lalu.

Sejumlah pedagang di Pasar Cikini, Jakarta Pusat kepada BBC memperkirakan menjelang hari Raya yang jatuh awal Agustus, kenaikan harga akan semakin tinggi.

"Sudah pasti dampak akibat kenaikan BBM ini ada: harga bawang merah, rawit merah itu bisa naik 10 sampai 15 persen, ngga naik BBM aja harga sudah rusak apa lagi naik BBM," keluh Imam, pedagang sayur di Pasar Cikini.

Sementara harga beras sejauh ini menurut pedagang lain di pasar yangs ama mengalami kenaikan meski tidak besar.

"Harga telur sudah naik sejak lama dan belum naik lagi, kalau harga beras naik Rp500 biasanya awal bulan ini harga sudah mulai naik," kata Haryanto.

Di Jakarta hari ini BPS mengatakan naiknya harga bahan makanan merupakan salah satu penyumbang utama inflasi, yang diperkirakan masih akan berlanjut pada bulan Juli.

Suplai bahan pangan

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Sasmito Hadi Wibowo mengatakan pemerintah harus mampu mengendalikan kenaikan tarif transportasi dan kesediaan bahan pangan untuk menjaga agar inflasi tak meroket.

"Puncak inflasi di tahun 2013 adalah bulan Juli ini tapi menurut saya inflasinya tidak akan sampai 2 persen,"kata Sasmito.

Tugas pemerintah menurut Sasmito adalah bekerja keras menstabilkan harga pangan agar pasokan mencukupi dan mencegah tarif tranportasi naik lagi.

"Sudah pasti dampak akibat kenaikan BBM ini ada, harga bawang merah, rawit merah itu bisa naik 10 sampai 15 persen, ngga naik BBM aja harga sudah rusak apa lagi naik BBM"

Imam

Inflasi tahun ini diramalkan akan meroket jauh meninggalkan angka inflasi tahun lalu yang menurut BPS hanya 4,3%.

Prediksi Bank Indonesia menyebut laju inflasi 2013 akan mencapai 7,7% akibat naiknya harga BBM, lebih tinggi dari target pemerintah dalam RAPBN-P 2013 yang menyebut inflasi 7,2%.

Menurut pengamat ekonomi Hendri Saparini, bilangan inflasi yang meroket ini akan sulit diikuti oleh daya beli warga miskin bahkan jika kelompok rentan ini sudah menerima bantuan tunai, BLSM.

"Harga makanan ini dalam lima tahun terakhir inflasinya mencapai 55 sampai 60 persen artinya setiap tahun rata-rata sekitar 15 persen. Bayangkan pendapatan mereka tidak akan meningkat sebesar itu, jadi tanpa kita lakukan kajian kita bisa tahu ada kelompok paling bawah yang terkena daya belinya karena kenaikan harga bahan makanan yang signifikan," kata Hendri.

Jumlah orang miskin turun

Pemerintah menyertakan program Bantuan Langsung Sementara Masyarakat, BLSM, sebagai jaring pengaman untuk masyarakat miskin untuk jangka waktu empat bulan. Namun mekanisme penyaluran dan efektifitasnya banyak dipertanyakan, terutama karena dianggap tak tepat sasaran.

Badan Pusat Statistik dalam data yang disampaikan hari ini mengatakan sebelum terjadinya kenaikan harga BBM tahun ini, jumlah penduduk miskin dalam lima tahun terakhir mengalami penurunan.

warga miskin

Jumlah orang miskin kemungkinan bertambah pasca penaikan harga BBM.

Lembaga itu mengatakan jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2013 mencapai 28,07 juta orang atau 11,37 persen.

Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin pada September 2012, maka selama enam bulan tersebut terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebesar 0,52 juta orang.

"Upah harian buruh tani dan bangunan meningkat selama periode September 2012-Maret 2013 yaitu maing-masing 2,08 persen dan 9,96 persen," jelas Ketua BPS Suryamin tentang salah satu faktor penyebab menurunnya jumlah orang miskin.

Menteri Keuangan, Chatib Basri sebelumnya mengatakan jumlah orang miskin pasca kenaikan harga BBM akan mencapai 4 juta orang namun jumlah itu akan tertutupi dengan dana Bantuan Langsung Sementara Masyarakat yang dikucurkan sebesar Rp150 ribu per rumah tangga selama empat bulan.

Namun nilai bantuan sebesar Rp150 ribu yang diberikan oleh pemerintah diragukan bisa membantu kelompok miskin.

"Besarannya ini kan Rp150 ribu untuk perbulan, hitungannya harus dijelaskan kepada publik karena setiap wilayah inflasinya kan berbeda dan apakah benar bahwa dari 2005 sejak BLT diberikan sebesar Rp100 ribu kemudian menjadi Rp150 ribu di tahun 2013 itu memang pas, karena kalau kompensasi harus mengkompensasi penuh dan bukan mengurangi beban," kata Hendri Saparini.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.