'Perusahaan Malaysia terlibat pembakaran hutan'

  • 22 Juni 2013
Warga Dumai, Riau, merasakan asap akibat pembakaran hutan dan lahan.

Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia mengatakan ada delapan perusahaan asal Malaysia yang diduga terlibat dalam kasus pembakaran lahan dan hutan di Riau.

Menteri Lingkungan Hidup Balthazar Kambuaya mengatakan, lembaganya saat ini masih terus melakukan proses penyelidikan dan berjanji akan melakukan tindakan hukum jika memang terbukti.

“Perusahaan yang diduga melakukan pembakaran ini ada delapan perusahaan sawit Malaysia,” kata Balthazar Kambuaya di Pekanbaru, Raiu, Sabtu (22/06), seperti dilaporkan wartawan BBC Indonesia Andreas Nugroho, dari Pekanbaru.

“Penyelidikan masih dilakukan dan kalau bukti sudah kuat akan kita lakukan proses hukumnya.”

Balthazar sebelumnya mengatakan, saat ini ada 14 perusahaan yang diduga terlibat dalam kasus pembakaran yang telah berlangsung lebih dari sepekan terakhir.

Dia mengatakan, lembaganya saat ini juga sedang melakukan identifikasi sejumlah perusahaan lain untuk kemudian diberi tindakan hukum.

Balthazar mengatakan dia akan menyampaikan hasil temuan ini kepada Menteri Lingkungan Hidup Malaysia dalam pertemuan hari Selasa pekan depan di Jakarta.

Deputi Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim, Arif Yuwono menambahkan dugaan keterlibatan delapan perusahaan tersebut karena pemerintah menemukan adanya kebakaran di lahan milik mereka.

“Faktanya itu di lapangan dan memang ada di lahan mereka,” kata Arif .

Mulai buat hujan buatan

Untuk mengurangi dampak asap yang ditimbulkan akibat kebakaran lahan dan hutan, hari ini pemerintah dibawah koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengatakan mengerahkan sejumlah pesawat dan helikopter.

Sebagian pesawat digunakan membantu hujan buatan sebagian lagi untuk memantau keberadaan titik api di sejumlah kawasan.

“Hingga sore ini kita akan mengerahkan tiga helikopter, satu pesawat hercules dan satu pesawat cassa ringan,” kata Ketua BNPB Nasional Syamsul Maarif.

“Hari ini untuk melakukan water bombing (bom air) kita sasar dulu di kawasan Bengkalis dan Rokan Hilir.”

Titik api yang ada kata dia tersebar secara sporadis dan setiap titik api mempunyai luasan sekitar 10 meter persegi.

Kota Pekanbaru sendiri pada pagi hari memang terlihat berkabut akibat asap pembakaran lahan dan hutan.

Asap ini bercampur dengan gas buang kendaraan bermotor yang semakin memperburuk kualitas udara di kota itu.

Sudah terbiasa

Sejumlah warga mengatakan mereka terganggu tapi peristiwa ini sudah kerap terjadi.

“Asapnya pekat ketika pagi dan mulai menjelang malam, kalaupun banyak yang tidak mengunakan masker karena sudah kerap terjadi,” kata Agung seorang karyawan swasta di Pekanbaru.

“Ini sudah mengganggu. Mata sudah pedih dan beberapa hari ini asap semakin banyak,” kata Mastar.

Bagi yang mempunyai gangguan pernapasan udara seperti saat ini juga terasa menyiksa.

Upaya pemadaman dilakukan dari darat dan udara.

“Udara yang tidak segar ini mengganggu konsentrasi belajar apalagi saya punya sedikit asma, jadi suka lemas kalau menghirup udara pagi yang nggak segar lagi. Kita bangun pagi suka merasa bengek juga,” kata Asmadindo, mahasiswi setempat.

Namun meski kondisi kota berasap seperti ini kerap berulang warga kota itu, tampaknya mereka bisa memakluminya dan tidak menyalahkan penanganan pemerintah Indonesia.

“Musim kemarau seperti saat ini kebakaran hutan memang terjadi di mana-mana tidak hanya di Indonesia tetapi juga di Australia,” kata Asmadindo.

Kabut asap aklibat kebakaran lahan dan hutan di Provinsi Riau bukanlah yang pertama terjadi namun dampak kali ini dirasakan sudah mengganggu sejumlah kawasan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

Pemerintah Singapura kemarin bahkan mengirim menteri lingkungan hidupnya ke Indonesia untuk menanyakan komitmen dalam penanganan asap.

Hal serupa juga akan dilakukan pemerintah Malaysia pekan depan.

“Kita jelaskan yang terganggu bukan hanya warga mereka tetapi warga kita juga dan saat ini kita telah berusaha melakukan pemadaman baik darat dan laut kalau soal target waktu kita tidak memastikan, ini kan peatland (lahan gambut)” kata Balthazar Kambuaya

Balthazar juga mengatakan meskipun Singapura telah menawarkan bantuan namun pemerintah Indonesia merasa belum perlu.

“Kita negara besar punya kepentingan untuk menyelesaikan ini bukan kepentingan mereka.”

Berita terkait