Warga Syiah Sampang dipindah ke Sidoarjo

  • 20 Juni 2013
Pengungsi warga Islam Syiah di Sampang sebelum dipaksa pindah.

Warga Islam Syiah yang terusir dari kampungnya dan tinggal sementara di lokasi pengungsian di GOR Kota Sampang, akhirnya diangkut secara paksa untuk dipindahkan ke Sidoarjo, Jawa Timur.

Sekitar pukul 14.30 WIB, Kamis (20/06), semua warga Syiah dinaikkan ke dalam lima bus yang disediakan Pemerintah Kabupaten Sampang, setelah diawali unjuk rasa kelompok santri dan ulama anti Syiah di dekat lokasi pengungsian.

"Mereka dibawa ke rumah susun di Sidoarjo, opsi yang jauh-jauh hari sudah disiapkan pemerintah," kata Purnama Iswantoro, Wartawan RRI di Sampang, dari lokasi pengungsi, saat dihubungi wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Kamis siang.

Wakil Bupati Sampang Fadhilah Budiono, menurut Purnama, mengatakan, relokasi warga Syiah dilakukan agar mereka dapat tinggal di tempat yang lebih layak.

"Karena kondisi GOR (yang dijadikan lokasi pengungsian) dinilai tidak manusiawi," kata Purnama, menirukan pernyataan Wakil Bupati Sampang.

Menurut Wakil Bupati Sampang, relokasi warga Syiah ini tidak dilakukan dengan paksaan.

"Walaupun pengungsi ingin kembali ke kampung halamannya, tetapi tidak dimungkinkan karena alasan keamanan," ungkapnya.

Namun menurut Koordinator Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Universalia, Hertasning Ichlas, para pengungsi dipaksa aparat Satpol PP Kota Sampang untuk meninggalkan GOR.

"Mereka diangkut dengan diseret, dipaksa," kata Hertasning, berdasarkan informasi yang diperoleh dari para pengungsi, saat dihubungi BBC Indonesia melalui telepon.

Menurut wartawan RRI di Sampang, Purnama Iswantoro, pemindahan para pengungsi Syiah ini didahului perundingan yang melibatkan Wakil Bupati Sampang, aparat kepolisian, perwakilan MUI dan NU Sampang, serta kelompok Syiah dan wakil pengunjukrasa.

Perundingan ini dilakukan setelah ribuan santri dan ulama anti Syiah menggelar unjuk rasa di depan GOR, menuntut agar pengungsi Syiah itu dipindahkan keluar dari Kota Sampang.

Hertasning mengatakan, sebagian pengunjuk rasa sempat dibiarkan aparat kepolisian masuk ke dalam GOR dan melontarkan kata-kata "kamu kafir!" ke arah pengungsi.

"Sementara sebagian pengungsi hanya bisa menangis dan berdoa," ungkap Hertasning, mengutip keterangan para pengungsi.

Namun menurut wartawan RRI, Purnama, pengunjuk rasa tidak dapat masuk ke dalam GOR, karena dijaga ribuan aparat kepolisian.

ABI protes keras

Seperti diketahui, warga Islam Syiah diusir dari kampungnya di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Sampang, pada 26 Agustus 2012 lalu, setelah sebagian besar rumah mereka dibakar dan dirusak oleh sekelompok orang.

Warga Syiah sempat memprotes rencana pemindahan pengungsi Syiah Sampang dengan mendatangi gedung DPR.

Sejak saat itulah, sebanyak 165 orang warga Syiah tinggal di dalam GOR tersebut dengan status sebagai pengungsi.

Keinginan mereka untuk kembali ke kampung halamannya, selalu ditolak Pemda dan otoritas keamanan Kota Sampang, karena alasan keamanan.

Di Jakarta, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi mengatakan, pemerintah pusat sudah menyiapkan tempat untuk pengungsi warga Syiah.

"Siapa yang dapat menjamin kemanan mereka, kalau mereka kembali ke kampungnya," kata Gamawan Fauzi, ketika ditanya wartawan BBC Indonesia, Andreas Nugroho, di sela-sela sidang kabinet di Kantor Kepresidenan.

DPP Ahlul Bait Indonesia, organisasi yang menaungi warga Islam Syiah di Indonesia, memprotes keras peristiwa yang mereka sebut sebagai pemindahan paksa, menurut Hertasning Ichlas, yang juga dikenal sebagai Ketua Bidang Media dan Publikasi Ahlul Bait Indonesia.

"Kami memprotes keras aksi yang dilakukan hari ini, karena ini perencanaan (pemindahan) yang sangat kasar," katanya.

Menurutnya, para pengungsi sejak awal menolak direlokasi, dan tetap ingin kembali kampung halamannya. "Jika dipaksa pindah ke rusun Sidoarjo, mereka tidak ingin masuk ke dalamnya, dan tetap ingin kembali ke kampung halamannya," kata Hertasning.

"Mereka ingin pemerintah tidak merelokasi, tapi menghendaki rekonsiliasi," tandasnya.

Pemerintah Daerah Jawa Timur sejak awal telah mempertimbangkan untuk memindahkan warga Syiah Sampang ke sebuah wilayah di Kota Sidoarjo, Jawa Timur.

Kebijakan ini sempat ditentang pemerintah pusat, sehingga rencana pemindahan itu sempat tertunda beberapa kali.

Alasan pemindahan ini, menurut pejabat di Sampang, karena warga Islam Sunni di Desa Karang Gayam, Sampang, menolak kepulangan warga Syiah tersebut.

Warga Syiah Sampang menolak klaim seperti itu, dan menganggap pernyataan itu lebih banyak disuarakan oleh kalangan anti Syiah di Sampang.

Berita terkait