Pertamina tambah solar, Organda batal mogok

  • 24 April 2013
SPBU
Pasokan solar sangat vital bagi industri angkutan penumpang maupun barang.

Organisasi pengusaha angkutan bermotor Organda menyatakan batal menggelar aksi demo seluruh Indonesia setelah Pertamina menyatakan mulai menambah pasokan solar sejak Selasa (23/4) petang.

Pasokan ini sudah lama ditunggu karena sebulan terakhir bahan bakar minyak jenis solar bersubsidi mulai langka di pasar sehingga pengusaha angkutan kesulitan mengoperasikan armada mereka.

"Kami dapat kabar dari Jakarta mulai Selasa sore sudah ada tambahan, kami cek ke Pertamina Semarang juga begitu," kata Budi Anggoro dari Organda Jawa Tengah.

Di wilayah ini, pengemudi angkutan penumpang dan barang memarkir kendaraan mereka di pinggir-pinggir jalan di sebagian wilayah Solo, Yogyakarta, Banyumas dan Purwokerto karena solar subsidi langka.

Pasokan di berbagai titik habis meski kendaraan sudah mengantri ratusan meter.

"Antrian bisa panjang sekali, 100-200 meter dari lokasi SPBU. Akhirnya karena tidak kebagian ya pengusaha cuma bisa operasi kadang-kadang separuh armada," tambah Budi.

Seperti ditulis sejumlah media nasional yang terbit hari ini (Rabu, 24 April, Menteri ESDM, Jero Wacik, menyebut kelangkaan terjadi karena Pertamina salah perhitungan terkait besaran kebutuhan solar nasional.

Berdasarkan pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun lalu, menurut Jero Wacik, mestinya konsumsi solar tumbuh sekitar delapan persen. Tetapi dalam asumsi konsumsi BBM tahun ini, justru konsumsi solar bersubsidi dikurangi dari 15,56 juta kilo liter menjadi 15,11 juta kilo liter.

'Terbakar habis'

Meski untuk sementara tambahan pasokan solar bersubsidi Pertamina akan membantu mengatasi problem kelangkaan, masalah konsumsi BBM nasional diperkirakan terus berlanjut.

BBM jenis premium dan solar sepanjang tahun lalu telah menyedot anggaran subsidi senilai Rp230 triliun, jumlah yang menurut kepala badan Pengawas Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas), Andi Noorsama Sommeng 'sangat mengkhawatirkan'.

"Bayangkan Rp230 triliun untuk dibakar habis dalam bentuk BBM. Subsidi kan mestinya kita pakai untuk bangun infrastruktur atau kebutuhan lain yang berdaya tahan tinggi dan lama," kata Noorsama kepada BBC.

Kebutuhan solar dan premium dari tahun ke tahun naik karena pertumbuhan kendaraan bermotor yang sangat pesat di Indonesia.

"Tiap tahun mobil naik satu juta unit, belum sepeda motor, belum kebutuhan lain. Bagaimana anggaran APBN menutup subsidi itu?" seru Noorsama.

Kelangkaan solar kali ini menurutnya bisa disebabkan dua hal: karena ulah spekulan yang hendak mengambil keuntungan di tengah rencana pemerintah menaikkan harga BBM mulai Mei, atau karena memang pertumbuhan kendaraan dan konsumsi solar yang memang sangat tinggi.

"Keduanya mengkhawatirkan dan karena itu harus ada solusi jangka panjang yang permanen untuk mengatasi problem subsidi dan konsumsi ini."

Dalam pernyataan di berbagai media sejumlah pejabat penting pemerintah menyebut rencana menaikkan harga BBM akan dilakukan mulai Mei dengan sasaran kendaraan milik pemerintah dan pribadi.

Harga BBM akan dinaikkan dari Rp4.500 jenis solar/premium menjadi sekitar Rp6000 atau Rp6500, sedangkan untuk kendaraan angkutan umum dan sepeda motor direncanakan tetap Rp4.500/liter.

Berita terkait