Keluarga korban LP Cebongan minta kasus dituntaskan

  • 9 April 2013
keluarga korban Cebongan
Perwakilan keluarga korban penyerangan LP Cebongan meminta kasus tersebut dituntaskan.

Keluarga korban penembakan di LP Cebongan, Sleman, Yogyakarta hari ini meminta agar tersangka pelaku yang merupakan anggota Kopassus disidangkan di pengadilan umum.

Perwakilan keluarga empat korban penembakan hari mendatangi kantor sejumlah lembaga meminta agar pengusutan kasus tersebut berlangsung transparan dan tuntas.

Salah satu keluarga korban Viktor Mambait mengatakan mereka ingin persidangan terhadap sebelas tersangka pelaku berlangsung di pengadilan umum.

Victor yang merupakan kakak dari almarhum Johanes Mambait ini mengatakan lewat peradilan umum dia berharap putusan akan sesuai dengan harapan keluarga korban.

"Kita meminta agar pelaku di pengadilan umum," kata Victor Mambait.

"Penanganan secara proporsional serta kebenaran dan keadilan dalam kasus ini juga bisa didapat."

Sejauh ini harapan Victor suilit untuk terwujud karena TNI telah menetapkan proses penyelidikan terhadap sebelas pelaku yang merupakan anggota Kopassus akan berlanjut dengan upaya pembuktian hukum di pengadilan militer.

"Proses hukum sudah berjalan sekarang, tim investigasi angkatan darat sudah menemukan (pelaku) dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku akan berlanjut ke peradilan militer," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AD, Brigadir Jenderal Rukman Ahmad kepada BBC Indonesia.

Tunggu Komnas HAM

Dia juga menjamin proses persidangan nantinya akan terbuka dan bisa dipantau oleh publik.

Pendapat sedikit berebda disampaikan oleh Anggota Komisi Hukum Nasional, Frans Hendra Winarta yang mengatakan bahwa kesebelas pelaku bisa diadili di luar pengadilan militer asalkan memenuhi sejumlah hal, salah satunya adalah ada rekomendasi pelanggaran HAM berat dalam kasus tersebut.

Komnas HAM saat ini memang juga sedang melakukan penyelidikan terhadap kasus penyerangan LP Cebongan.

"Artinya satu-satunya yang bisa diharapakan agar pelaku disidang di persidangan sipil adalah lewat persidangan hak asasi manusia itu artinya Komnas HAM harus bekerja keras," kata Frans.

"Kalau pidana biasa saya kira tidak ada pintu masuknya untuk menyidangkan sebelas pelaku di pengadilan biasa."

Pekan lalu tim inventigasi bentukan TNI AD menyampaikan bahwa kasus penyerangan LP Cebongan, Sleman melibatkan 11 anggota Kopassus.

Para pelaku disebut melakukan serangan dengan motif balas dendam terhadap rekan mereka yang tewas di tangan para korban.

Tim tersebut juga membantah adannya unsur perencanaan dalam aksi penyerangan ke LP Cebongan.

Sebelumnya Komnas HAM pernah menyebut bahwa aksi penembakan yang menewaskan empat orang tahanan ini dilakukan orang yang terlatih dan profesional dan masuk dalam kategori pelanggaran HAM serius.

Berita terkait