Korban banjir belum terima bantuan

  • 18 Januari 2013
Dua pengendara motor melihat lokasi banjir di wilayah Petamburan, Jakarta Pusat.

Walaupun banjir mulai surut di sebagian wilayah ibu kota dan warganya mulai beraktivitas seperti sedia kala, ada sebagian masyarakat yang masih berkutat dengan persoalan banjir.

Mereka adalah orang-orang yang rumahnya masih terendam air bah dan tinggal di tempat pengungsian, serta membutuhkan bantuan kebutuhan sehari-hari.

Salah-satu lokasi di Jakarta yang sampai Jumat (18/01) sore masih terendam banjir adalah kawasan Petamburan, tidak jauh dari banjir kanal barat, Jakarta Pusat.

Petamburan dan sekitarnya merupakan salah-satu wilayah langganan banjir tahunan.

Di salah-satu gang sempit yang sebagian rumahnya terendam banjir, Ibu Zainab, agak bersungut-sungut.

Maklumlah, Zainab adalah ketua RT yang sebagian besar rumah warganya masih terendam banjir, termasuk rumahnya sendiri.

Sampai Jumat siang, Zainab mengaku belum menerima bantuan makanan dan obat-obatan, yang akan dia salurkan kepada warganya.

"Belum ada nih nasi turun," ungkap Zainab, kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan.

Nasi yang dimaksudnya adalah bantuan berupa makanan.

"Ini saya sedang nungguin."

Di sebelah Ibu Zainab, ada lelaki tanggung yang ditugasi orang tuanya untuk mengecek rumahnya yang terendam sampai satu meter. Seperti Ibu Zainab, lelaki bernama Rizki Noval mengaku juga belum menerima bantuan apapun.

"Saya nungguin bahan makanan saja, buat sementara. Tapi belum ada..." ujarnya.

Dia lantas membandingkan apa bantuan yang dia terima saat banjir lima tahun silam. "Kayaknya dulu lebih cepat (turun bantuan)."

Pendapat agak berbeda diutarakan Nico, yang juga tinggal tidak dari rumah ibu Zainab dan Rizki. Menurutnya, sebagian bantuan dari pemerintah biasanya sudah turun di posko, tetapi belum disebarkan ke bawah. "Memang kalau ke warga langsung, memang ada yang belum dapat," katanya.

Butuh susu

Di wilayah RW 1, Kelurahan Petamburan, ada delapan RT dengan jumlah penduduk keseluruhan mencapai sekitar 3.000 jiwa.

Anak-anak di lokasi pengungsian membutuhkan susu.

Sebagian warga tinggal yang di pinggiran aliran banjir kanal barat merupakan korban paling parah dari banjir siklus lima tahunan ini.

Dari pantauan BBC Indonesia, ketinggian banjir di pinggiran kanal di kawasan Petamburan dapat mencapai sekitar satu meter. Salah-satu jalan raya yang melintas kawasan itu juga masih terednam banjir.

Di dekat pintu salah-satu gang, berdiri sebuah posko banjir. Ada beberapa warga yang terlihat sibuk di bawah tenda, termasuk beberapa perempuan di dapur umum yang sederhana.

Menurut koordinator posko di tempat itu, Edi Topas, dia baru menerima bantuan Rp 700 ribu dari Kantor Kelurahan Petamburan untuk mendirikan posko banjir. "Lainnya, berupa bantuan sukarela dari warga, termasuk rangsum untuk pengungsi," ungkapnya.

Saat ini, lanjut Edi, yang dibutuhkan para korban banjir di wilayahnya adalah susu untuk anak-anak. "Ini yang belum ada sumbangan," ungkapnya.

Adapun untuk lokasi penampungan korban banjir, Edi menyebut beberapa lokasi, seperti musholla dan bangunan luas milik sebuah ormas.

Tidak mau pindah

Letak sebagian wilayah Petamburan yang lebih rendah dari aliran banjir kanal barat, membuat warga yang tinggal di wilayah itu, hampir selalu teredma banjir apabila air kanal itu meluap.

Dari situasi seperti inilah, berbagai rencana dan wacana pemindahan warga di wilayah itu, sudah berulangkali dimunculkan, tetapi warganya sepertinya menanggapinya dengan dingin.

Di lokasi pengungsian korban banjir di Musium Tekstil, penokalan itu muncul dari mulut seorang lelaki bernama MA Yasin.

"Saya belum membayangkan untuk pindah dari kampung saya," ujarnya enteng, saat saya tanya apakah dia tidak menol;ak untuk dpindahkan ke rumah susun, misalnya.

"Karena," imbuhnya cepat-cepat, "tempat ini sudah puluhan tahun lalu (saya tempat), sebelum tahun 70-an, (saya) sudah ada di sini".

Nico, warga Petamburan lainnya, menyatakan: "Belum membayangkan (untuk pindah). Kalau disuruh milih, mending pindah ke tempat lain daripada rumah susun," tegasnya.

Ibu Zainab, yang rumahnya terendam air bah, punya alasan lain: "Sudah terbiasa kebanjiran. Sudah pada betah walau banjir".

Dua belas orang meninggal

Dalam keterangannya, Menko Kesra Agung Laksono Kamis (17/01) kemarin mengatakan, pemerintah akan berupaya secepat mungkin memberikan bantuan kepada korban banjir, utamanya bahan-bahan kebutuhan pokok.

Keterangan resmi BNPB pada Jumat (18/01) menyatakan, pihaknya telah menyalurkan bantuan untuk melayani kebutuhan para pengungsi.

"Dari banyak pengungsi yang ada di sejumlah titik banjir, tim kedua telah sediakan sebanyak 20 unit dapur umum. Pengungsi juga telah mendapatkan bantuan sebanyak 30 ribu selimut dan 15 ribu lembar tikar yang akan segera didistribusikan," kata Kepala BNPB Syamsul Maarif dalam jumpa pers di Posko Nasional Penanggulangan Bencana di Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta, Jumat (18/01).

Sementara terkait bantuan logistik, menurutnya, juga telah didistribusikan ke lokasi pegungsian. Logistik yang dapat didistribusikan, lanjutnya, mencukupi hingga satu pekan ke depan.

Data Badan Nasioanl Penanggulangan Bencana, BNPB, menunjukkan, saat ini ada sekitar 15 ribu pengungsi yang tersebar di 68 titik di Jakarta.

Adapun daerah yang terendam banjir meliputi 31 kecamatan dengan jumlah penduduk terdampak sekitar 30 ribu kepala keluarga atau sekitar 114 ribu jiwa.

Sejauh ini menurut data pemerintah, korban meninggal akibat banjir di Jakarta mencapai 12 orang.

Berita terkait