Tentara dan Brimob amankan lokasi rusuh di Pulau Buru

  • 6 Desember 2012
Diperkirakan ada sekitar 6.000 orang penambang liar di kawasan Gunung Botak, Pulau Buru, Maluku.

Dua peleton aparat TNI dan Brimob masih melakukan penjagaan di kawasan penambangan emas di Gunung Botak, Pulau Buru, Maluku, setelah terjadi bentrokan antara para penambang dengan penduduk asli yang menewaskan dua orang.

Langkah pengamanan ini dilakukan setelah Pemerintah Provinsi Maluku dan otoritas keamanan setempat memutuskan menutup lokasi penambangan di kawasan Gunung Botak, Kecamatan Waeapo, serta mengevakuasi para penambang ke Ambon.

"Masih ditempatkan satu peleton Brimob dan dua peleton TNI untuk memberi pengamanan di Gunung Botak, supaya masyarakat tidak masuk lagi ke lokasi penambangan," kata Kahumas Polda AKBP Johanis Huwae kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Kamis (06/12) siang, melalui telepon.

Menurut polisi, bentrokan yang terjadi pada Selasa (04/12) dilatari perebutan lahan penambangan antara penduduk asli dengan para penambang yang berasal dari luar Pulau Buru, seperti Jawa, Sulawesi, serta Ambon.

Johanis Huwae mengataan, bentrokan pada Selasa lalu bukanlah yang pertama. "Masyarakat (di Gunung Botak) terlalu banyak, ada sekitar enam ribu orang penambang. Cekcok sedikit, ada perkelahian," ungkapnya.

Penambang liar

Namun Johanis membantah jika korban tewas akibat rusuh itu mencapai empat orang, seperti dilaporkan sejumlah media. "Itu dua orang saja (yang meninggal) di RSU Ambon. Mereka tertikam tombak dari belakang," jelasnya.

Kedua orang yang meninggal dunia merupakan penambang pendatang dari wilayah Saparua, Maluku.

Para penambang liar membanjiri Gunung Botak, setelah diketahui ada kandungan emas di gunung tersebut.

Sampai Kamis (06/12) siang, menurut Johanis, situasi bekas kerusuhan di Gunung Botak, berhasil sepenuhnya dikendalikan aparat TNI dan polisi. "Masyarakat tidak ada lagi di tambang, sudah kosong, dan situasi sudah aman," katanya.

Menurut Johanis, warga pendatang mulai mendatangi lokasi penambangan di Gunung Botak pada 2011 lalu, setelah ditemukan kandungan emas di wilayah itu.

Semula jumlah penambang tradisional sekitar 100 orang, lambat-laun bertambah berlipat-lipat dan sekarang mencapai 6.000 orang, kata Johanis Huwai.

Sejumlah laporan menyebutkan, penambangan di Gunung Botak berlangsung liar, tanpa izin, yang puncaknya ditandai kehadiran ribuan penambang liar dari berbagai daerah Indonesia, mulai Jawa, Sumatra, Sulawesi dan Ambon.

Mereka mendirikan ratusan tenda di sekitar lokasi penambangan.

"Tanah itu merupakan tanah ulayat warga setempat, yang disebut sebagai orang gunung. Karena mereka tidak mau diatur pemerintah, sering terjadi perkelahian di atas tanah itu," kata Johanis.

Berita terkait