KBRI bantu WNI yang ditangkap dalam kasus narkoba di Timor Leste

Terbaru  24 Oktober 2012 - 15:17 WIB
crystal methamphetamine

Narkotika jenis methamphetamine yang disita sebesar enam kg

Kedutaan Besar Republik Indonesia mengupayakan bantuan hukum bagi empat warga negara Indonesia yang ditangkap di Dili, Timor Leste karena dituduh menyelundupkan narkotika.

Juru Bicara KBRI Timor Leste, Prima Sastrawijaya mengatakan keempat WNI itu ditangkap bersama seorang warga negara Mozambique pada hari Selasa (23/10).

"Mereka ditangkap karena mendatangkan obat-obatan terlarang yaitu narkotika jenisnya shabu shabu (methamphetamine)," kata Prima pada Wartawan BBC Indonesia, Pinta Karana.

Dia mengatakan narkotika yang disita oleh polisi setempat berjumlah enam kilogram.

"Kami telah melakukan koordinasi dengan aparat terkait, termasuk Kepolisian Nasional Timor Leste yang juga membawahi bidang imigrasi serta atase kepolisian," kata Prima.

Kasus ini, menurut Prima, merupakan yang terbesar di Timor Leste sehingga mendapat perhatian dari para pejabat negara termasuk Perdana Menteri Xanana Gusmao.

Xanana mengunjungi kantor polisi Timor Leste (PTNL) di Dili untuk bertemu para pejabat dan melihat tersangka serta barang bukti.

Tak ada hukuman mati

Wartawan surat kabar mingguan Tempo Semanal, Jose, yang dihubungi BBC Indonesia mengatakan para tersangka memilih Timor Leste menjadi pintu keluar masuk narkoba karena tidak ada hukuman mati atau seumur hidup.

Prima menjelaskan dia belum mengetahui ancaman hukuman maksimal yang bisa dikenakan terhadap empat WNI tersebut.

"Mereka ditangkap karena mendatangkan obat-obatan terlarang yaitu narkotika jenisnya shabu shabu (methamphetamine)"

Prima Sastrawijaya

Timor Leste dan Indonesia tidak memiliki perjanjian ekstradisi.

"Tidak ada perjanjian ekstradisi antara Indonesia dan Timor Leste tapi kalau penanggulangan pencegahan obat-obat terlarang sudah ada MoU yang ditandatangani kepolisian Timor Leste dan Kepala BNN RI," kata Prima.

Tidak ada satu pun pejabat BNN yang berhasil dihubungi untuk dimintai keterangan. Kantor berita nasional Antara melaporkan para petinggi BNN saat ini berada di Cina.

Kedatangan mereka ke negeri tirai bambu itu untuk menangani kasus penahanan puluhan WNI dalam kasus narkotika dan obat-obatan terlarang.

Keterlibatan WNI dalam kasus penyelundupan narkoba di sejumlah negara bukan hal baru.

Untuk kasus di Cina, Direktur Pemberantasan BNN Inspektur Jenderal Benny Mamoto seperti dikutip oleh Antara mengatakan sebagian besar WNI yang ditahan adalah wanita.

Mereka dirayu dengan janji pernikahan dan "biasanya dihamili lebih dulu karena wanita hamil yang tersangkut kasus narkoba tidak dihukum di sini, tetapi langsung dideportasi ke Indonesia."

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.