BBC navigation

Hukuman pelaku bom Bali dinilai 'terlalu ringan'

Terbaru  12 Oktober 2012 - 11:32 WIB
peringatan bom bali

Keluarga korban bom Bali meletakkan karangan bunga dan lilin

Hukuman untuk sejumlah pelaku serangan bom Bali 2002 dinilai terlalu ringan oleh keluarga korban yang menghadiri upacara peringatan 10 tahun tragedi itu di Jimbaran, Bali, Jumat (12/10).

Chistine Rowaldy, seorang warga negara Australia, kehilangan saudara perempuannya, Bronwyn Ross.

Christine mengaku masih merasa marah atas kejadian tersebut dan merasa tidak puas terhadap hukuman yang diterima oleh para pelaku, meski tiga orang pelaku utama mendapatkan hukuman mati, tetapi pelaku lain hanya mendapatkan hukuman 'ringan'.

"Itu sangat konyol Schapelle (Corby) mendapat hukuman 20 tahun untuk ganja, dan teroris beberapa tidak mendapatkan hukuman, sistem hukum di Indonesia tidak bagus dan harus diubah," kata Christine

Seluruhnya korban meninggal dalam ledakan bom di Bali 2002 mencapai 202 orang yang terdiri dari warga negara dari berbagai negara termasuk Indonesia, Inggris dan Australia yang kehilangan 88 warganya.

Acara peringatan digelar di Garuda Wisnu Kencana. Pemerintah Australia mendatangkan keluarga dan kerabat korban dari negara itu. Sejumlah pejabat juga menghadiri upacara termasuk

Perdana Menteri Australia Julia Gillard, pemimpin oposisi Tony Abbot, mantan PM Australia John Howard , Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa, dan Gubernur Bali Made Mangku Pastika.

'Masih merasa marah'

Seorang korban selamat, Paul Lawrenson, dari Chippenham, Wiltshire, Inggris mengaku harus datang dari Inggris untuk menyaksikan peringatan itu.

paul lawrenson

Paul Lawrenson mengaku masih merasa marah

"Ini sangat bagus, ini merupakan peringatan yang bagus, pernyataan-pernyataan yang bagus, saya masih merasa campur aduk mengenai peristiwa itu, tapi saya merasa bersyukur masih hidup sampai sekarang," kata Paul.

Paul, seorang penyelam, berada di Sari Club ketika ledakan terjadi. Dia baru datang pada 11 Oktober 2002 dan ledakan bom terjadi pada 12 Oktober malam.

"Masih merasa marah tetapi ini bukan hari untuk meluapkan kemarahan tetapi mengenang mereka, dan saya merasa mereka masih disana," kata Paul.

Paul yang kehilangan sebagian lengan kanannya, mengatakan butuh waktu selama 6 bulan untuk kembali ke kehidupan rutin dan pekerjaan di bidang pembuatan piranti lunak komputer.

Sementara itu, dalam pidatonya Julia Gillard mengatakan pertistiwa bom bali kedua negara menjadi lebih dekat seperti ditunjukan oleh para relawan mengulurkan tangan para korban selamat dan juga keluarga mereka, sebuah upaya yang patut dikenang.

Dia mengatakan setelah 10 tahun ini saatnya untuk melakukan rekonsiliasi dengan masa lalu.

"Ini merupakan hari untuk emosi dari kemarahan dan kehilangan yang dalam untuk memafaatkan dan rekonsiliasi dengan masa lalu yang buruk, tetapi tidak ada yang dapat menggantikan posisi yang hilang dalam keluarga anda."

Gillard mengatakan pemerintah kedua negara pun dengan cepat melakukan kerja sama untuk keamanan internasional.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.