Polda Jateng: penembakan Solo teror terhadap polisi

Terbaru  31 Agustus 2012 - 14:29 WIB

Polda Jateng meyakini rentetan serangan bersenjata atas anggotanya merupakan aksi teror.

Polda Jateng menyatakan, penembakan anggota kepolisian hingga tewas di Solo, Jawa Tengah, merupakan tindakan teror terhadap institusi kepolisian.

"Ya, faktanya seperti itu, terjadi teror (terhadap institusi kepolisian), bahkan mengakibatkan anggota kami meninggal," kata Kepala Divisi Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Polisi Djihartono kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Jumat (31/08) siang.

Namun demikian, lanjutnya, polisi masih menyelidiki kemungkinan keterkaitan kasus penembakan ini dengan dua serangan bersenjata terhadap pos kepolisian di Solo pertengahan Agustus lalu.

"Dari segi waktu, sepertinya berturut-turut dalam waktu relatif tidak lama," kata Djihartono. "Namun sekali lagi, kami belum mengkaitkan ke sana."

Serangan terakhir terjadi pada Kamis (30/08) yang mengakibatkan seorang anggota kepolisian, Bripka Dwi Data Subekti tewas, setelah diberondong tembakan oleh dua orang tidak dikenal.

"Ya, faktanya seperti itu, terjadi teror (terhadap institusi kepolisian), bahkan mengakibatkan anggota kami meninggal."

Kepala Divisi Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Polisi Djihartono

Dia ditembak saat berjaga di sebuah pos polisi di kawasan pertokoan Singosaren, Solo. .

Tentang sinyalemen serangan tersebut terkait Pilkada Gubernur Jakarta, Djihartono menyatakan, pihaknya sejauh ini belum mengkaitkannya.

"Kami tidak menyimpulkan kejadian semalam dengan agenda politik di luar Solo. Kami tidak menyimpulkan ke sana," tegas Djihartono.

Sejauh ini, menurutnya, Polda Jateng dibantu Densus 88 Mabes Polri masih memeriksa bukti-bukti yang dikumpulkan di lokasi kejadian, serta memeriksa sedikitnya 14 orang saksi.

Terorganisasi

Sementara, Markas Besar Polri menyatakan, rentetan serangan bersenjata terhadap aparat kepolisian, bukanlah kejahatan biasa, karena sudah dipersiapkan dan teorganisasi.

"Ini terorganisir atau dipersiapkan, bukan konvensional. Ini sudah mengarah ke perbuatan teror," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat, Brigjen Pol. Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jumat (31/08) siang.

"Kami menduga pelakunya masih kelompok yang sama dengan dua penyerangan sebelumnya."

Kabiro penerangan Mabes Polri, Brigjen Polisi Boy Rafli Amar.

Dalam keterangannya Boy Rafli menduga, serangan pada Kamis malam masih berhubungan dengan teror di Solo sebelumnya.

“Kami menduga pelakunya masih kelompok yang sama dengan dua penyerangan sebelumnya,” kata Boy.

Kepolisian kini tengah menyelidiki kasus ini secara intensif. Olah tempat kejadian perkara dan otopsi korban telah dilakukan. Brigadir Kepala Dwi yang meninggal dunia kemarin, menurut Boy, rencananya dimakamkan siang ini.

Serangan pertama terjadi pada 17 Agustus lalu, ketika pelaku yang mengendarai sepeda motor memberondong pos pengamanan lebaran di kawasan Gemblekan. Dua anggota polisi terluka akibat serangan ini.

Sehari kemudian, serangan berupa lemparan granat ini terjadi di pos pengamanan di kawasan Gladak, namun tidak menimbulkan korban.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.