Peristiwa Sampang: Presiden diminta tegas lindungi warga negara

Terbaru  27 Agustus 2012 - 10:22 WIB
yudhoyono

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta gubernur Jawa Timur 'bertindak cepat'

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diminta bertindak tegas melindungi seluruh warga negaranya dan menjamin kebebasan beragama pasca terjadinya penyerangan terhadap komunitas Syiah di Sampang, Madura, Minggu (26/08).

Satu orang pengikut Syiah bernama Hamamah meninggal dunia dan tujuh orang lainnya menderita luka berat dalam serangan yang menurut Hertasning Ichlas, juru bicara tim advokasi kasus Sampang, sangat terorganisir dan berat sebelah. Puluhan rumah warga juga musnah dibakar massa.

Jauh sebelum peristiwa ini terjadi, kata Hertasning, warga sudah sering mendapat ancaman pembunuhan yang mengindikasikan para penyerang siap melakukan tindakan brutal untuk mengusir warga Syiah dari Sampang.

"Ada upaya sistematis dari beberapa kelompok untuk mengusir eksistensi warga Syiah dari Sampang.

"Kami mendatangi Mabes Polri dan Kantor Kepresidenan untuk meminta pertanggungjawaban presiden dan pemerintah agar bertindak tegas dan tidak menjadi penonton saja dalam kasus ini, apalagi ada korban tewas," kata dia.

Saat ini ratusan warga Syiah Sampang mengungsi di Gelanggang Olahraga Sampang dan banyak laki-laki yang menderita luka berat.

"Saat ini masih ada 100-an lelaki yang mengalami luka menganga masih berada di lima lokasi di luar pengungsian dan kami melakukan penyisiran untuk membantu mereka," kata Hertasning.

Menurut dia, ada 500-1000 orang melakukan pengepungan terhadap tiga kampung di sana sehingga warga tidak bisa keluar.

"Hal ini juga mempengaruhi kenapa kaum lelaki tidak bisa keluar [kampung] karena mereka memilih bertahan atau memang tidak mampu keluar karena masih luka," tambah Tasning.

Ini bukan penyerangan pertama yang menimpa komunitas Syiah di sana. Pada Desember 2011, massa membakar pesantren Misbahul Huda Pimpinan Ustaz Tajul Muluk dibakar dan juga rumah-rumah warga di sekitarnya. Tajul Muluk sendiri saat ini dipenjara dalam kasus penodaan agama.

Rapat terbatas

sampang syiah

Warga Syiah kembali mengungsi di Gelanggang Olahraga Sampang

Hari ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggelar rapat terbatas membahas penanganan kasus penyerangan warga penganut Syiah di Sampang Madura hari ini (27/08).

Yudhoyono di awal rapat mengatakan dia akan meminta laporan kepada pejabat keamanan daerah terkait kasus penyerangan yang menewaskan satu orang itu.

'Saya sudah berbicara dengan Gubernur Jawa Timur dan oleh karena itu harus ada langkah cepat dan tepat yang dilakukan oleh saudarab semua dan jajarannya di daerah sehingga kejadian ini tidak terus terjadi di tempat yang sama,' kata Presiden Yudhoyono sebelum menggelar rapat terbatas itu.

'Kejadian ini merupakan kejadian yang kedua dalam dua tahun. Itulah tujuan saya memanggil saudara-saudara," kata Yudhoyono.

Dalam rapat terbatas itu tampak hadir Menteri Dalam Negeri, Kapolri, Kepala BIN, Panglima TNI, Menteri Agama serta Menteri Hukum dan Ham.

Kecaman terhadap peristiwa ini juga datang dari Kontras yang mengatakan bahwa jauh hari KontraS telah mengingatkan pemerintah dan Kepolisian Republik Indonesia untuk segera melakukan langkah evaluatif dan langkah antisipatif atas model penanganan serta pengamanan dalam menjaga kemananan dan ketertiban masyarakat di wilayah Sampang pasca penyerangan dan pembakaran tahun lalu.

"Penyerangan, pengrusakan, tindakan pengusiran, penganiayaan serta pembunuhan terhadap jemaah Syiah Sampang seperti yang terjadi hari ini, merupakan perbuatan pidana yang sangat terang benderang di atur di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Oleh karena itu, menjadi wajib bagi Aparat Kepolisian Republik Indonesia, untuk bersikap adil dalam menegakkan hukum," kata Kontras.

Seruan senada juga datang dari Direktur Eksekutif Elsam Indriaswati Dyah Saptaningrum yang meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta seluruh Ormas Keagamaan (NU-Muhammadiyah) untuk "bisa membantu menenangkan massa dan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang makna menghormati, kerjasama dan toleransi."

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.