Hujan buatan untuk cegah kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan

Terbaru  3 Agustus 2012 - 13:32 WIB
forest in riau, indonesia

Hutan di Riau adalah salah satu lokasi yang kerap dilanda kebakaran

Operasi penyemaian awan atau hujan buatan akan dilakukan pada 12 Agustus di Sumatera dan Kalimantan untuk mencegah kebakaran lahan dan hutan di musim kemarau tahun ini.

Operasi itu akan dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) selama 40 hari.

"Hujan buatan dilakukan dengan menggunakan 2 pesawat Cassa 212, yang ditempatkan di dua posko yaitu Pekanbaru dan di Palangkaraya. Khusus untuk Riau, BNPB juga akan mengerahkan 2 helikopter yang dilengkapi bambi-bucket untuk pemboman air dari udara pada titik api," kata juru bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam email, ia menambahkan operasi itu akan menelan biaya Rp 12 miliar.

Hujan buatan akan dilakukan di daerah rawan kebakaran lahan dan hutan yaitu Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalbar, Kalteng, Kalsel dan Kaltim.

Asap dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia selain mengganggu warga setempat, juga berdampak pada negara tetangga Singapura dan Malaysia.

Warga di kedua negara mengeluh kesehatan mereka terganggu dan tidak dapat beraktivitas di luar rumah.

Tahun lalu pemerintah Singapura bahkan menawarkan bantuan untuk memadamkan kebakaran di Sumatra karena asap tebal kebakaran dikhawatirkan mengganggu jalannya balap Formula Satu di Singapura.

Sedangkan Malaysia berkali-kali menyampaikan protes terhadap gangguan asap dari Indonesia.

El Nino

HUjan buatan ini juga bertujuan untuk memastikan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) di Riau September mendatang bebas dari gangguan asap kebakaran hutan.

Jika diperlukan, hujan buatan akan diintensifkan dengan menambah tiga helikopter dan dua pesawat tambahan. BNPB juga mencadangkan dana Rp30 miliar untuk seandainya dana Rp 12 miliar sudah habis terpakai.

Prediksi Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kondisi musim kemarau tahun ini normal tetapi El Nino Southern Osicillation (ENSO) cenderung meningkat mulai Juni hingga Desember 2012.

BNPB menyiapkan hal itu meski kondisi musim kemarau normal namun tidak menutup kemungkinan kebakaran lahan dan bencana asap akan tetap terjadi. Berdasarkan prediksi BMKG, pola cuaca El Nino (ENSO) yang berpotensi menimbulkan cuaca panas ekstrim akan cenderung meningkat mulai Juni - Desember 2012.

Data Kementerian Kehutanan menunjukkan bahwa jumlah titik panas atau hotspot di Indonesia jauh lebih rendah dari beberapa negara Asean. Berdasarkan pemantauan yang dilakukan Kementerian Kehutanan dari Januari - 24 Juli 2011 melalui satelit NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) yang bersumber dari Asean Specialized Monitoring Center (ASMC), diketahui total hotspot di Indonesia adalah 8.082. Sementara itu, untuk periode yang sama, jumlah hotspot yang terjadi di beberapa negara Asean menunjukkan jumlah yang jauh lebih tinggi, yaitu Myanmar 24.767, Kamboja 12.577, Laos 11.076, Thailand 10.031, Vietnam 7.037, dan Malaysia 1.102.

Akhir tahun 2011 lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah mengeluarkan Instruksi Presiden No 16/2011 mengenai peningkatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang memerintahkan

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.