BBC navigation

Indonesia akan buka konsulat di Ramallah

Terbaru  7 Juli 2012 - 12:56 WIB

Ramallah hanya berjarak 10 menit dari ibukota Israel, Yerusalem.

Indonesia akan membuka kantor konsulat di Ramallah, yang dipimpin oleh seorang diplomat tingkat tinggi.

Pejabat konsulat RI di Ramallah ini secara tidak resmi juga akan menjadi wakil diplomasi dengan Israel, demikian seperti yang dilaporkan The Times of Israel Jumat (06/07).

Kebijakan ini dipandang sebagai upaya untuk meningkatkan hubungan antara Israel dengan negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, dan telah disetujui setelah perdebatan sensitif selama lima tahun, demikian yang disampaikan seorang sumber yang terlibat dalam proses ini.

Sumber itu juga menyebut adanya politisi Australia dari sejumlah partai yang ada ''di dalam gambar'' ketika perembukan ini berlanjut.

Indonesia sendiri secara resmi menyajikan kebijakan untuk membuka konsulat di Tepi Barat sebagai bentuk dukungan atas kemerdekaan Palestina.

''Saya selalu menyuarakan kebutuhan untuk negara-negara di Timur Tengah untuk bersatu dan mendukung perjuangan Palestina,'' kata ketua DPR Marzuki Alie saat menghadiri pembukaan Konferensi Internasional untuk Kemerdekaan Al-Quds dan Palestina di Bandung, Jawa Barat, Rabu (04/07).

Ditanya tentang pembukaan konsulat di wilayah Tepi Barat yang dikuasai Israel, Marzuki Alie mengatakan, ''Kehadiran konsulat disana jangan diartikan bahwa kami mengakui pendudukan Israel di Ramallah.''

Yerusalem hanya berjarak sekitar 10 menit perjalanan dari Ramallah bagi para diplomat dengan dokumentasi VIP.

Bagaimanapun, diplomat tingkat tinggi yang akan ditempatkan sebagai perwakilan Indonesia untuk Otoritas Palestina, PLO, disebut-sebut juga akan berhubungan dengan Israel dan menjalankan tugas diplomatik.

'Konsul kehormatan'

Israel dan Indonesia secara diam-diam juga menjaga hubungan dagang, keamanan dan hubungan lainnya.

Warga Israel bisa mendapatkan visa kunjungan ke Bali di Singapura, dan banyak orang Indonesia yang datang ke Israel untuk berziarah.

"Tidak seperti itu"

Teuku Faizasyah

Dengan adanya peningkatan hubungan diplomatik ini maka sepertinya hubungan kedua negara akan lebih mulus.

Indonesia dan Israel hingga saat ini tidak memiliki hubungan diplomatik secara resmi.

Pada tahun 1993, PM Israel saat itu Yitzhak Rabin bertemu dengan Presiden Soeharto di kediamannya di Cendana Jakarta. Dan Menlu Israel Silvan Shalom juga pernah bertemu dengan Hasan Wirayuda saat KTT PBB berlangsung di New York tahun 2005.

Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur juga pernah mengungkapkan pendapat pribadinya yang mengusulkan pembukaan hubungan diplomatik dengan Israel.

Sementara itu juru bicara Presiden Yudhoyono bidang hubungan luar negeri Teuku Faizasyah ketika dihubungi BBC mengaku belum bisa mengkonfirmasi pemberitaan tersebut.

''Itu menjadi urusan kementerian luar negeri, tetapi sepengetahuan saya dua tahun lalu memang ada pembicaraan tentang rencana penunjukkan konsul kehormatan di Ramallah,'' kata Teuku Faizasyah.

Dan ketika ditanya apakah dalam pembicaraan tentang konsul kehormatan tersebut sekaligus bertugas sebagai perwakilan dengan Israel Faizasyah menjawab: ''Tidak seperti itu.''

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.