BBC navigation

TNI bantah melakukan serangan di Papua

Terbaru  8 Juni 2012 - 12:32 WIB

TNI membantah tuduhan yang menyebut anggota menyerang sebuah desa di Distrik Wamena, Jayawijaya, Papua.

TNI menolak tuduhan yang menyebut sejumlah anggotanya melakukan serangan di Distrik Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Kamis (07/06).

Sejumlah laporan sebelumnya menyebutkan, sejumlah anggota TNI menyerang, membakar dan melukai beberapa warga di di sebuah kampung di Desa Honai Lama, Distrik Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

Akibat serangan itu, lanjut laporan itu, menyebabkan sedikitnya satu orang warga setempat tewas dan belasan lainnya mengalami luka-luka.

Sejumlah bangunan rumah di desa itu juga dibakar, demikian laporan situs online Westpapuamedia yang dikutip beberapa media terbitan Australia dan media lokal Indonesia.

"Tidak, tidak ada (serangan anggota TNI) itu. Berita itu menyesatkan. Jadi anggota (TNI) kita memang tadinya marah dan mereka datang (ke Desa Honai Lama), tetapi dibatasi oleh perwiranya dan di suruh kembali (ke pangkalannya)."

Kepala Penerangan Kodam XVII Cendrawasih Letnan Kolonel Ali Hamdan Bogra.

"Tidak, tidak ada (serangan anggota TNI) itu," kata Kepala Penerangan Kodam XVII Cendrawasih Letnan Kolonel Ali Hamdan Bogra kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, melalui telepon, pada Jumat (08/06) siang WIB. .

Dia juga membantah informasi yang menyebut para anggota TNI membakar sejumlah bangunan di desa tersebut dan melakukan penembakan.

"Berita (tentang penyerangan anggota TNI) itu menyesatkan," kata Ali Bogra.

Namun demikian, Ali Hamdan Bogra mengakui para anggota TNI yang bertugas di wilayah tersebut marah setelah mengetahui dua anggota TNI dkeroyok warga Desa Honai Lama, yang menyebabkan satu orang tewas dan lainnya luka kritis.

"Jadi anggota (TNI) kita memang tadinya marah dan mereka datang (ke Desa Honai Lama), tetapi dibatasi oleh perwiranya dan di suruh kembali (ke pangkalannya)," kata Ali, menjelaskan.

Menurutnya, para anggota TNI yang marah itu akhirnya menuruti ajakan para perwira itu.

"Jam lima (Waktu Indonesia Timur) mereka sudah dikembalikan ke pangkalannya," jelasnya.

Pengeroyokan anggota TNI

Sementara itu, Polda Papua mengakui ada kasus kekerasan yang diduga melibatkan sejumlah anggota TNI terhadap warga Desa Lama Honai, Distrik Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Kamis (07/06).

Wakapolda Papua Brigjen Paulus Waterpauw mengatakan, para anggota TNI yang diduga terlibat dalam kasus kekerasan ini akan ditangani langsung oleh kesatuan yang membawahinya.

"Kemudian anggota (TNI) itu turun dan membawa anak itu ke keluarganya, yang waktu itu sedang ada acara. Tapi yang terjadi kemudian saat (anak itu) dibawa, keluarga itu mengeroyok anggota (TNI) itu sampai meninggal."

Wakapolda Papua Brigjen Paulus Waterpauw.

"Kalau untuk pelanggaran disiplin maupun hukum, yang diduga dilakukan (anggota TNI) akan ditangani komandan kesatuannya, dalam hal ini bapak panglima (Kodam XVII Cenderawasih)," kata Paulus Waterpauw kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, melalui telepon, Jumat (08/06) pagi.

Namun demikian, menurut Paulus Waterpauw, Polda Papua akan menindaklanjuti secara hukum kasus penganiayaan terhadap dua anggota TNI yang dikeroyok massa di Wamena, Papua, Rabu (06/06) lalu.

"Kita akan memprosesnya," kata Paulus, singkat.

Akibat pengeroyokan ini, sejumlah laporan menyebutkan, anggota TNI bernama Pratu Ahmad Saifudin tewas, sementara rekannya Pratu Ahmad Saelan mengalami luka parah.

Pengeroyokan terhadap dua anggota TNI ini terjadi sehari sebelum kasus kekerasan yang diduga dilakukan sejumlah anggota TNI di Desa Lama Honai, Wamena.

Paulus Waterpauw menjelaskan, penyerangan terhadap kedua anggota TNI ini bermula ketika sepeda motor yang mereka tumpangi menabrak seorang bocah yang tinggal di wilayah tersebut.

"Kemudian anggota (TNI) itu turun dan membawa anak itu ke keluarganya. yang waktu itu sedang ada acara," jelasnya.

"Tapi yang terjadi kemudian saat (anak itu) dibawa, keluarga itu mengeroyok anggota (TNI) itu sampai meninggal," tambah Paulus.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.