Muhammad Nazarudin hadapi vonis hari ini

Terbaru  20 April 2012 - 08:27 WIB
Muhammad Nazarudin

Muhammad Nazarudin dituntut hukuman tujuh tahun penjara dan denda Rp300 juta.

Muhammad Nazarudin, terdakwa kasus suap pembangunan Wisma Atlet Palembang, dijadwalkan mendengarkan pembacaan vonis di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Jumat (20/4).

Sebelumnya jaksa penuntut meminta hakim menjatuhkan hukuman tujuh tahun penjara karena menganggap Nazarudin terbukti menerima suap berupa lima lembar cek bernilai Rp4,6 miliar dari PT Duta Graha Indah (DGI).

PT DGI memberikan cek itu karena perusahaan milik Nazarudin, PT Permai Grup dianggap telah membantu PT DGI memenangkan tender pembangunan proyek senilai Rp191,6 miliar itu.

Dengan fakta persidangan ini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berharap majelis hakim bisa memenuhi tuntutan hukuman yang diajukan jaksa.

"Semoga saja hakim sependapat dengan tuntutan yang diajukan jaksa KPK," kata Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto seperti dikutip sejumlah media.

Selain menuntut hukuman penjara selama tujuh tahun, jaksa juga meminta hakim menjatuhkan hukuman tambahan berupa denda sebesar Rp300 juta.

Selain kasus suap wisma atlet, Nazarudin juga terlibat kasus dugaan pencucian uang dalam pembelian saham Garuda sebesar Rp300 miliar.

Seharusnya bebas

"Cek itu diberikan lewat Yulianis dan Oktarina. Mereka kemudian mencairkan cek itu dan kemudian uangnya disimpan di dalam brankas kantor."

Elza Syarief

Sementara itu salah seorang kuasa hukum Nazarudin, Elza Syarief mengatakan jika melihat dari fakta pengadilan seharusnya hakim membebaskan kliennya dari hukuman. .

"Kalau lihat faktanya seharusnya dia bebas. Tapi saya pesimis dengan penegakan hukum negeri ini," ujar Elza saat dihubungi BBC Indonesia.

Elza melihat nuansa politik kasus ini sudah kelewat besar dan nampaknya vonis akan dijatuhkan agar publik puas.

"Selain itu nampaknya ada niat menghentikan kasus ini hanya ke Nazarudin saja dan tidak diungkit-ungkit biang keladinya," tambah Elza.

Padahal, lanjut dia, dari berbagai fakta di pengadilan jaksa tak mampu membuktikan kliennya menerima suap dan tidak bisa menghadirkan barang buktinya.

"Saat hakim menanyakan barang buktinya, jaksa mengakui memang tidak memiliki buktinya," papar Elza.

Bukti yang dimaksud adalah uang sebesar Rp4,6 miliar hasil pencairan lima lembar cek pemberian PT DGI.

"Cek itu diberikan lewat Yulianis dan Oktarina. Mereka kemudian mencairkan cek itu dan kemudian uangnya disimpan di dalam brankas kantor," kata dia.

Sehingga, lanjut Elza, tidak ada bukti apapun yang secara langsung mengkaitkan Nazarudin dengan tudingan suap itu.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.