Imigrasi: Penganiayaan imigran mungkin saja terjadi

Terbaru  5 Maret 2012 - 09:53 WIB
Imigran Afghanistan

Indonesia menampung sekitar 2.000 imigran asal Afghanistan, Iran, Irak dan negara-negara Afrika.

Juru bicara Direktorat Jenderal Imigrasi Maryoto membenarkan bahwa 10 orang petugas Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pontianak saat ini menjalani pemeriksaan di kepolisian karena diduga menganiaya sejumlah imigran asal Afghanistan.

Akibat penganiayaan itu, seorang imigran tewas dan tiga imigran lainnya menderita luka. Semua korban berasal dari Afghanistan.

"Saya sudah mendapat kabar dari kepala Rudenim Pontianak yang membenarkan hal itu (penahanan)," kata Maryoto saat dihubungi BBC Indonesia, Senin (5/3).

"Namun apa hasil pemeriksaan itu, kami masih menunggu dari kepolisian," tambah Maryoto.

Lebih jauh Maryoto mengatakan kemungkinan terjadinya penganiayaan sangat mungkin terjadi. Namun dia memastikan kejadian itu di luar prosedur yang berlaku.

"Kami ini kan sulit menempatkan para pencari suaka itu. Di satu sisi mereka tak ingin diperlakukan sebagai kriminal, di sisi lain mereka itu mudah sekali protes dan mudah melawan petugas," papar Maryoto.

Para pencari suaka itu, tambah Maryoto, selalu berlindung di bawah istilah pengungsi padahal belum semua dari mereka mendapatkan status itu dari Badan PBB urusan pengungsi UNHCR.

"Sehingga dalam kondisi lelah, ditambah mereka sering membuat ulah dan sering melarikan diri membuat petugas kami lepas kendali," tegas Maryoto.

Dia menambahkan dari 10 petugas yang saat ini ditahan, lima di antaranya berusia antara 19 hingga 20 tahun dan masih berstatus calon pegawai negeri.

Terlalu lama

"Indonesia tidak meratifikasi konvensi PBB tentang pengungsi. Artinya Indonesia bukan negara penerima pengungsi dan seharusnya menolak pengungsi tapi ini bukan ranah imigrasi."

Maryoto

Maryoto menjelaskan aksi protes dan melawan petugas memang kerap terjadi di rumah-rumah detensi imigrasi di seluruh Indonesia.

Para pencari suaka ini biasanya memprotes lamanya proses pemberian status pengungsi dan penempatan di negara ketiga.

"Kami saat ini sedang meminta UNHCR untuk mempercepat proses itu karena selama ini tak ada batas waktunya. Jadi bisa bertahun-tahun," ujar Maryoto.

Padahal, lanjut dia, Indonesia tidak termasuk negara yang diwajibkan menerima dan menampung pengungsi atau pencari suaka.

"Indonesia tidak meratifikasi konvensi PBB tentang pengungsi. Artinya Indonesia bukan negara penerima pengungsi dan seharusnya menolak pengungsi tapi ini bukan ranah imigrasi," kata dia.

Selain itu, Maryoto mengakui infrastruktur sebagian besar bangunan rudenim di Indonesia tidak memenuhi standar menjadi salah satu penyebab kerapnya terjadi keributan antara pengungsi dan petugas imigrasi.

Di Indonesia kini terdapat 13 rudemin yang menampung sedikitnya 2.000 orang pengungsi dan pencari suaka.

Para pengungsi ini sebagian besar berasal dari Afghanistan, Iran, Irak, Pakistan dan sejumlah negara-negara Afrika.

Link terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.