bbc.co.uk navigation

Umar Patek tolak semua tuduhan jaksa

Terbaru  20 Februari 2012 - 14:20 WIB
Umar Patek

Umar Patek membantah telah terlibat dalam aksi Bom Bali I 2002 yang menewaskan ratusan orang.

Dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Senin (20/2), kuasan hukum terdakwa kasus terorisme Umar Patek menolak semua tuduhan jaksa penuntut.

Asludin Hatjani mengatakan kliennya tidak melakukan pembunuhan seperti yang dituduhkan jaksa termasuk ikut merencanakan aksi Bom Bali I yang menewaskan 202 orang termasuk 88 orang warga Australia.

Selain itu, Asludin juga membantah Patek pergi ke Pakistan untuk bertemu dengan pimpinan Al-Qaeda Osama bin Laden.

"Dia berangkat ke Pakistan sebagai bagian rencananya beremigrasi ke Pakistan. Dia tak pernah berencana bertemu dengan Osama bin Laden," papar Hatjani.

Seperti diketahui, Umar Patek ditangkap di Abottabad, Pakistan kota yang sama di mana akhirnya pasukan Amerika Serikat menewaskan Osama bin Laden.

Para pejabat Amerika Serikat dan Pakistan meyakini keberadaan Patek di kota yang sama dengan Osama bin Laden adalah sebuah kebetulan semata.

Enam dakwaan

Umar Patek, 45, dijerat enam dakwaan termasuk pembunuhan, pembuatan bom dan kepemilikan senjata api ilegal terkait serangan Bom Bali I.

"Umar Patek adalah sosok berbahaya dan dicari tak hanya di Indonesia tapi juga di beberapa negara misalnya Filipina. Dia sudah menyebabkan banyak orang meninggal, " kata jaksa penuntut Bambang Suharyadi seperti ditulis kantor berita AFP.

"Dia berangkat ke Pakistan sebagai bagian rencananya beremigrasi ke Pakistan. Dia tak pernah berencana bertemu dengan Osama bin Laden."

Asludin Hatjani

Atas segala perbuatannya itu, lanjut Bambang, jaksa penuntut akan mendorong agar hakim menjatuhkan hukuman terberat.

Pengadilan Umar Patek diperkirakan memakan waktu selama empat bulan karena jaksa harus menghadirkan 86 orang saksi yang akan menjelaskan keterlibatan Patek dalam berbagai aksi teror dalam 10 tahun terakhir.

"Kami akan melacak aktivitasnya, dari bom malam Natal 2000 dan Bom Bali 2002 hingga perannya dalam kamp pelatihan teroris di Aceh," ujar Bambang.

Patek, 45, dalam interogasi mengatakan bahwa ia membuat bom berbobot 700 kilogram di sebuah rumah kontrakan dengan menggunakan berbagai peralatan rumah tangga, termasuk sebuah timbangan, sendok nasi dan kantong plastik, seperti dilaporkan kantor berita AP.

Bom tersebut kemudian diangkut dengan sebuah mobil van bersama sebuah rompi peledak. Mobil tersebut diledakkan di depan dua klub malam di kawasan pantai Kuta pada 12 Oktober 2002.

Lebih dari 200 orang meninggal dunia, sebagian besar adalah warga negara Australia.

Umar Patek alias Abu Syeikh alias Umar Arab bergabung dengan kelompok Islam garis keras di Afganistan sekitar 1990-an.

Ia disebut pernah bergabung bersama Front Pembebasan Islam Moro (MILF) di Mindanao pada tahun 1995.

Patek juga diduga pernah menjadi instruktur di kamp militer Jemaah Islamiyah di Hudaibiyah, Filipina.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2012 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.